Saturday, 25 July 2015

RINDU


Dan Jika hanya memori ini yang tersisa...
Biarlah ia tersipan rapi
Dalam ruang khusus
Tak tersentuh, tak terkoyak..
Tak hilang walau secuil..
Kelak...
Jika rindu kembali datang
Dan hati tak mampu sembuhkan..
Biarlah memori ini ..
Yang mampu sembuhkan hati...



SAMPAH HATI


Suatu hari seorang lelaki miskin berjalan di sebuah kompleks perumaham mewah...
Tanpa sadar terdapat sebuah mobil yang keluar dari garasi sebuah rumah yang besar...mobil itu terus mundur tanpa memperhatikan orang yang berjalan di depan rumah tersebut, hingga mobil itu hampir menabrak sang lelaki miskin itu.
Sang sopir akhirnya keluar, mencaci maki si lelaki miskin yang compang tersebut, mamaki dengan kata-kata dan sikap kasar.
Melihat apa yang telah terjadi, sang majikan yang sedari tadi duduk di belakang sopir akhirnya keluar, ia menghentikan makian sang sopir dan menatap sang lelaki miskin sembari bertanya mekapa lelaki tersebut hanya diam saja, padahal sudah jelas itu adalah kelalain sang sopir, dan ia hanya diam saja mendengarkan cacian sopir tersebut.
Lelaki miskin itu dengan tegas menjawab bahwa dirinya tidak ingin menjadi tempat sampah seperti yang dilakukan sang sopir. Menurutnya sang sopir itu hanya menumpuk sampah –sampah dalam dirinya yang menjadikannya seperti sebuah tempat sampah.
Rupanya sang lelaki miskin mencoba menjelaskan bahwa sejatinya manusia cenderung suka menumpuk sampah-sampah ke dalam dirinya, sampah ini merujuk pada kotoran-kotoran yang ada di hati kita selama ini. Kita tidak sadar bahwa amarah, dengki, iri, ghibah yang kotor itu telah menumpuk selama bertahun-tahun dalam sebuah gumpalan daging yang disebut hati, jarang dibersihkan dan dibuang sehingga menjadikan hati kita seperti tempat sampah. Karena amarah selalu mampu mengasai hati dari kesabaran.
Itulah mengapa terkadang meskipun di bulan Ramadhan ini sangat dianjurkan untuk meredam amarah, rasa dengki, iri dan menggunjing, terkadang kita tetap melakukannya dan sulit untuk dihindarkan.
Mengapa demikian...?
Itu karena kita sudah terbiasa menumpuk sampah yang tak pernah dibersihkan. Jikapun ingin dibersihkan tetapi jika hanya dilakukan saat ramadhan tanpa ada ketulusan dan keikhlasan untuk mencoba tidak menumpuk sampah tersebut, tentu akan sulit dilakukan.
Bukankah kita tidak mau menjadi tempat sampah, dan pada akhirnya lelaki miskin tersebut, tka mau menjadi tempat sampah, sampah yang pada akhirnya menumpuk, meluap dan dibuang ke orang lain saking menumpuknya, saking tak terbendung oleh hati ini. Bukankah sudah seharusnya untuk kita membuang sampah-sampah tersebut?


Saat Dimana Aku “Tak Bisa Mengatakan TIDAK”


Saat dimana kata TIDAK yang terucap di hati tak mampu terealisasikan oleh lisan
Saat dimana aku tak mampu berkata TIDAK walau sejenak.
Saat itu saat aku tidak bisa mengatakan TIDAK
Ketika aku tak tahu apa itu keputusan yang tepat
Ataupun sebaliknya
Meski aku tahu
Apa yang akan terjadi setelahnya
Tapi aku...tetap tak bisa mengatakan TIDAK
Hanya karena aku tak mampu mengatakan TIDAK
Dan aku tak bisa....
Tetap tak bisa....


Menyukai dan Mencintai


Karena hanya 3 detik waktu yang dibutuhkan
3 detik...
3 detik yang dibutuhkan untuk menyukai seseorang
3 detik...
Karena menyukai bukan berarti mencintai
Menyukai ialah ibarat mendapatkan parsel dengan hiasan cantik
Namun bukan berarti isi dari parsel tersebut juga cantik...
Karena hanya butuh 3 detik waktu untuk menyukai
Namun tidak untuk mencintai...
Karena terkadang hati ini terjebak oleh rasa suka yang terlanjur melambung
Dan terhempas oleh kenyataan yang tak serupa dengan harapan
Karena aku tidak hanya ingin menyukai
Aku ingin mencintai...
Cinta yang tak pernah menyakiti hati
Cinta yang tak akan pernah ku sesali
Cinta yang hanya satu dan untuk satu hati pula
Cinta yang tak terbagi
Bukan layaknya parcel yang hanya memilki hiasan cantik
Namun tak mampu memikat hati untuk mencintai

Hanya karena aku tak ingin seperti itu