Malang,
19 September 2015
Dewasa ini perkelahian antar sesama
manusia semakin marak terjadi. Namun perkelahian yang marak ini nyatanya bukan
hanya terjadi di kalangan pelajar, ataupun anak-anak. Perkelahian ini juga
bukan didasari oleh persoalan besar. Bukan. Perkelahian ini terjadi karena
gengsi, emosi dan nafsu yang tak bisa di kendalikan hati.
Malam itu jalanan memang lebih
ramai dari biasanya. Mungkin faktor malam minggu dan jumlah mahasiswa baru yang
semakin bertambah membuat jalan raya disekitar kampus UMM menjadi sangat padat.
Seperti biasanya, saya keluar dari komplek perumahan Bukit Cemara Tujuh dan berniat menyebrang ke jalan besar. Motor saya berada tepat dibelakang
sebuah motor dan disamping kanan sebuah mobil sedan berplat nomor B. Jalanan
yang ramai tanpa henti, membuat semakin banyak kendaraan yang mengantri untuk
menyebrang. Tiba-tiba ada sebuah motor berplat nomor AG yang memotong jalan
dari arah batu dan berhenti tepat didepan mobil sedan disamping kiri saya
tersebut. Motor itu berniat untuk masuk BCT namun terhalang oleh motor-motor
yang posisisnya sudah sangat maju ke jalan raya, sehingga ia terus berdiam di
depan mobil sedan itu.
Tak lama kemudian, pengendara mobil
sedan disamping kanan saya membuka jendelanya dan berteriak pada lelaki
pengendara motor untuk cepat minggir dari depan mobilnya. Lelaki pengendara
motor itu, sambil mengunyah permen karetnya bersikap acuh dan tetap saja tidak
beranjak dari depan mobil sedan tersebut. Pengendara mobil itu akhirnya membuka
pintu dan mendatangi pemuda itu. Menggunakna bahsa jawa kasar sembari berteriak
ke arah pemuda bermotor untuk pergi. Namun tetap saja, pemuda itu tidak mau
pergi dan semakin membalas kata-kata pengendara mobil dengan kasar juga.
Pengendara mobil rupanya kesal dan mulai menggoyang-goyang motor pemuda itu.
Pemuda itu semakin menantang dengan tidak beranjak dari motornya. Terjadi adu
mulut yang sangat lama. Karena kedua belaah pihak tidak ingin mengalah.
Akhirnya teman dari pengendara mobil itu kelaur juga dari mobilnya. Saya pikir
ia akan melerai kawannya yang terlibat adu mulut dengan pengendara motor. Tapi
ternyata tidak. Temannya justru semakin memanaskan suasana dengan mendukung
temannya. Motor-motor semakin banyak berada di sekitar mereka, termasuk saya.
Namun semuanya perempuan. Dan tidak ada yang berani melerai keduanya. Mereka
juga tidak bergegas untuk cepat menyebrang. Karena fokus melihat tontonan
perkelahian antara pengendara motor dan mobil tersebut. satpam yang biasanya
menjaga di post komplek depan juga tidak terlihat disana. Saya yang tidak ingin
berlama-lama disana segera pergi menyebrang. Entah apa yang terjadi
selanjutnya. Yang jelas perkelahian fisik antar keduanya terjadi ketika saya
sudah pergi.
Inilah fenomena yang terjadi saat
ini. Andai saja pemuda pengendara motor itu segera beranjak, andai saja
pengendara mobil itu tidak bersikap kasar dan bersabar, mungkin perkelahian
sengit itu tidak akan terjadi. Mereka terlalu egois, terlalu gengsi untuk
saling mengalah satu dengan lainnya. Merasa diri merekalah paling benar dan
tidak salah. Padahal mengalah bukan berarti kita kalah. Mengalah untuk
menciptakan kedamaian. Mengalah untuk mencegah perkelahian. Mengalah untuk
menjadi pribadi yang sabar. Banyak perkelahian terjadi karena masalah-masalah
yang sebenarnya sepele. Karena bagi mereka mengalah adalah kalah. Bukan. Jutru
sebaliknya. Mengalah adalah kemenangan terbesar bagi kita. Karena kita berhasil
untuk meredam ego dan amarah sesaat. Karena sejatinya kita telah menang melawan diri kita sendiri. Sungguh Saya sangat belajar dari kejadian
malam itu. Mengalah bukan bebarti kalah. Bukan.