Saturday, 1 March 2014

Metamorfosa Cinta



Cinta….sebuah kata yang tak pernah habis diulas, sebuah kata yang memiliki ribuan makna, sebuah kata yang mampu merubah hidup manusia didalamnya, sebuah kata yang hangat dan menghinggapi hati setiap insan, tak pelak cinta seolah menjadi sesuatu yang tak pernah habis dibicarakan setiap hari, setiap jam, setiap menit di segala waktu.

Seiring dengan berjalannya waktu dewasa ini fenomena cinta seolah bermetamorfosa di kalangan  remaja, masa remaja memang masa yang dipenuhi oleh kata yang bernama cinta, setiap hari tanpa mengenal tempat dan waktu, berbagai kasus masalah percintaan beredar di kalangan remaja, memang itu adalah hal yang wajar karna itu adalah fitrah seorang manusia.

Berbicara masalah metamorfosa yang saya sebutkan diatas tak lain adalah karena cinta sekarang dianggap hampir menjadi satu-satunya tujuan hidup bagi banyak kalangan pelajar dan mahasiswa, cinta yang awalnya mereka anggap sebagai “penyemangat” dalam melakukan segala aktifitas alih-alih menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri, bagaimana tidak mereka banyak  mengorbankan waktu, biaya, hanya karena cinta tanpa mempunyai arti yang nyata. Membuang banyak waktu untuk sebuah kata yang namanya “berpacaran” dimana masih banyak hal penting yang harusnya terfikirkan, sudah terlalu banyak korban dari kata Cinta yang tak mampu mengendalikan dan membawa dirinya kearah hakikat cinta itu sendiri, alih-alih menjadi sebuah penyemangat namun pada akhirnya mereka jatuh dalam lubang yang  menghancurkan hidup mereka sendiri.

Sebuah refleksi yang perlu ditelisik lebih dalam akan hakikat cinta sendiri, mereka yang rela mengorbankan apapun untuk pasangannya yang notabennya belum terikat oleh suatu “Pernikahan”, tak hanya waktu dan materi, bahkan kerabat dan keluarga sering menjadi sasaran mereka, bagaimana bisa hal itu terjadi disaat mereka melakukan semua itu tanpa didasari adanya pemahaman yang berarti. 

 Suatu hal yang paling mengenaskan adalah mereka melupakan sang Maha Cinta itu sendiri. Ya, Tuhan yang menciptakan mereka dan menciptakan cinta itu sendiri, Allah S.W.T . Seolah tak ada yang namanya batas pacaran, seoalah mereka tak butuh Tuhan mereka, seolah mereka telah memilih jalan yang benar. Tentu saja ini mengenaskan generasi muda di Negara bermayoritas islam yang akan membawa arah Negara ini kedepannya tidak memiliki pondasi yang kuat dalam akhlaq dan keimanan mereka.

Sudah seharusnya generasi muda ini bangkit memikirkan nasib bangsa, sekarang bahkan setingkat mahasiswa pun masih banyak yang buta akan berbagai macam berita dan kondisi tanah air, buta akan berbagai macam diskusi nasional dan internasional, acuh tak acuh akan apa yang terjadi disekitarnya.

Sudah cukup bangsa ini dijajah secara nyata, sekarang bahkan bangsa ini telah dijajah Ideolodi dan Idealismenya, sudah menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk mampu melawan kuatnya arus globalisasi yang selain menimbulkan keberuntungan juga menimbulkan banyaknya kerugian terutama menjaga dalam menjaga ideologi bangsa Indonesia.

Position Paper LUMUN X




Country: North Korea

Committee: United Nation Developed Program ( UNDP )

Name: Heavy Nala Estriani

Topic Area A: Natural Disaster Risk Reduction
Topic Area B: MDG 8: Developing a Global Partnership for Development

University: Lahore University of Management and Science (LUMUN X)


Topic Area A: Natural Disaster Risk Reduction

The country of North Korea understand the necessity of Natural Disaster risk reduction, Crisis prevention, and even to building resilient communities and work towards minimizing the economic, infrastructural, and social structure Post-disaster. North Korea is incredibly vulnerable to natural disaster, A North Korean land management official acknowledged that widespread deforestation and a lack of basic infrastructure had made the country vulnerable to the typhoons and storms that batter the peninsula each year. The UN said two-thirds of the country's 24 million people are coping with chronic food shortages. The UN report said torrential rains caused severe damage to homes, public buildings, infrastructure and farms, affecting maize, soybean and rice fields.

The Democratic People Republic Of Korea (DPRK) Red Cross disaster management program was set up to reduce the risk of natural disaster and to help communities protect themselves and over-come the effects of disasters. The Flooding, which occurred on the heels of a severe drought, renewed concern about North Korea’s ability to feed its people. In June 2012, the UN said two-thirds of the country’s million people are coping with chronic food storages.  Thousands have been left without clean water, electricity and access to food and other supplies. That leads to a risk of waterborne and respiratory diseases and malnutrition.
North Korea believes there are two points that need to be focused extensively. Firstly, disaster management planning and organizational preparedness, this includes the ability to predict and plan for disasters in order to mitigate their impact on vulnerable communities, and to respond to and effectively cope with their consequences. Secondly, Disaster response and recovery, this includes improving the disaster response capacity to meet the immediate needs of people affected by disasters, and improving the capacity to restore or improve pre-disaster living conditions and reduce the risk of future disasters.

North Korea believes that is recognizing the goal of the United Nation Developed Program (UNDP): to strengthen development gains in post-crisis countries by helping governments respond to disasters and mitigate the risk they pose.  Enhanced coordination among different organization and government bodies to ensuring disaster risk reduction (DRR) is applied to climate change adaptation, increasing investment for DRR, building disaster resilient cities, schools and hospitals, and strengthening the international system for DRR.

In order to diminishing disaster hazard, lessening vulnerabilities, moderating calamity
Affects and enhancing reactions to anticipated disasters it’s become imperative to the whole countries to assist the North Korea to play along on handling natural disaster and lessens Disaster Risk, improper improvement decisions can additionally worsen vulnerabilities.

Topic Area B: MDG 8: Developing a Global Partnership for Development

The country of North Korea Understand the Necessity to enhance the base human need such as food production, rural energy development, disaster preparedness, and socio-economic development to the whole society of Democratic People Republic of Korea (DPRK). UNDP said, the gross domestic product (GDP) gradually increased from US$ 10.6 billion in 2002 to about $12.3 billion in 2010 however GDP growth remains weak. The disaster hazard bears down upon North Korea every year, and its hindrance North Korea to feed its people In terms of agricultural damaged by Flood and landslides. Foreign aid sometime inadequate to feed its people, it’s compel the government getting into debt with some developed countries such as South Korea, Under the deal, the North is required to pay back a total of $875.32 million by 2037, Its include food loan since 2000.

Foreign aid has been significant issues in the country of North Korea, on improving public health, sanitation and infrastructure to help the North Korea upgrade its ability to cope with natural disasters. In addition to fight hunger and malnutrition in young children, and provide sufficient food post-disaster. Then why Humanitarian Aid is the key position to attain this objective. Foreign Aid come from China and South Korea, such as Rice and Corn, but then even this aid declining the number of famine, the inhabitants in rural area a shortage of essential medicine, moreover the medicine post-disaster. It’s become one of the reasons why escalation of mortality significantly increases in North Korea.

The Government of North Korea believes the aim of Global Partnership at refocusing the countries receiving aid towards development by offering lower debt ratios and irrevocable debt relief, and to provide affordable essential drugs in developing countries through cooperation with pharmaceutical companies, it’s in line with the goal E of World Trade Organization (WTO); providing access to affordable medicines in developing countries. Because many government are incapable to provide this service to their people and, thus the international community should work towards strengthening the capacities of certain countries in the key area of public health.

The Government of North Korea believes this summit is vital to enhancing the global partnership by ensuring proportional Aid towards developing countries, moreover the country who struck down by natural disaster every year. The global partnerships through essential medicine also put significant role for declining the number of mortality in terms of malnutrition and disease post-disaster. So in the end it is attaining the goal of United Nation Development Program (UNDP), in point 8 of Millennium Development Goals (MDGs).






Sebuah Tempat Bernama Za'atari


Konflik Suriah yang telah meletus sejak tahun 2011 lalu tentu telah menimbulkan memori tersendiri bagi setiap warganya, hampir setiap orang memiliki kenangan buruk akan perang dan konflik yang seakan tak menemukan titik terang tersebut, Anak kehilangan Ayah, ibu kehilangan Anak, keluarga kehilangan sanak saudara, dan yang menyedihkan adalah peperangan mengharuskan mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka, Suriah.

diantara 1,8 juta pengungsi suriah yang tersebar di beberapa negara tetangganya seperti irak, turki, Lebanon, Yordania menjadi salah satu penampung pengungsi terbanyak dengan lebih dari 150 ribu pengungsi berada di suatu kamp pengungsian yang berada di daerah Zaatari,tepatnya 10 km di timur kota mafraq, yordania.

sejak kamp pengungsian ini dibuka 28 juli 2012 silam disebutkan bahwa pengungsi yang bergerak dari suriah ke yordania dalam kisaran 1000-2000 pengungsi per-hari, para pengungsi tersebut sebagian juga tersebar di beberapa kota di Yordania tetapi jumlah terbanyak ditemukan di kamp pengungsian Zaatari.

dengan minimnya akses Air bersih, listrik, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya, para pengungsi harus rela hidup berbagi satu dengan lainnya, tidak hanya dalam hal materi, namun mereka juga berbagi kisah, kisah pilu yang telah tertancap dalam hati mereka, kisah yang tak pernah mereka sadari dapat memisahkan mereka dari sanak saudara, kerabat bahkan tempat tinggal.

situasi kamp pengungsian yang gersang dengan debu padang pasir yang berhembus kencang di siang hari, serta angin gurun yang berhembus dingin malam hari, cukup untuk membuat mereka merasakan hidup "susah" dalam kamp pengungsian tersebut, belum lagi permasalahan-permasalahan internal yang melanda seperti halnya kekerasan domestik dan seksual yang mengancam para pengungsi perempuan dan anak-anak, serta masalah kesehatan yang merupakan masalah umum yang terjadi di Kamp tersebut dan khususnya angka Kelahiran yang cukup tinggi per-harinya mencapai 10-13 angka kelahiran setiap harinya.

dengan berbagai macam kondisi diatas kiranya cukup untuk menggambarkan situasi Kamp pengungsian Zaatari yang melebihi kapasitas tersebut, namun diantara kisah pilu yang tertanam dalam benak seluruh pengungsi kiranya masih ada satu hal yang menjadi harapan bagi warga Suriah, harapan yang dapat membangun kembali negeri mereka yang porak-poranda, kembali membangun memori indah akan negeri makmur nan damai yang kembali mereka impikan, semua harapan itu adalah terletak pada setiap senyum anak-anak Suriah yang tersenyum tulus diantara noda dan luka yang ada dalam benak mereka, senyum akan adanya harapan dan impian untuk membangun kembali Negeri dan tanah kelahiran mereka....Suriah.

LUMUN X




LAPORAN KEGIATAN MODEL SIDANG PBB
LAHORE UNIVERSITY MODEL OF UNITED NATION (LUMUN)
Lahore, 17-21 Desember 2013

Selasa, 17 December 2014

13.00-15.00
Pembukaan Registrasi delegasi Internasional ( International Delegate)
16.30-17.00
Campus Tour bersama delegasi Internasional, dipandu oleh International Affairs Committee untuk mengetahui lebih lanjut fasilitas dan letak gedung-gedung di Lahore University Management and Science (LUMS).
17.00-19.00
Opening Ceremony dibuka oleh  Sir Shahryar Khan, beliau adalah  Patron Of LUMUN and Ambassador Pakistan, dengan dihadiri oleh lebih dari 700 peserta yang datang dari seluruh penjuru Pakistan serta 10 orang peserta yang datang dari beberapa Negara.
19.00-22.30
Persiapan Gladi bersih dan gladi bersih untuk setiap group delegasi untuk persiapan “Cultural Cabaret” yang akan diadakan pada tanggal 18 Desember.






Rabu, 18 Desember 2013
Pada hari ini Committee Session  dimulai, secara umum dalam committee debat  dan Model sidang PBB ini tidak hanya memberikan Ide-ide individual saja, namun dalam sebuah committee dibutuhkan adanya kerjasama  team serta diplomasi yang baik. Dalam model siding PBB ini terdapat 10 Sesi Sidang, yang masing-masing sesi memakan waktu 2-3 jam.
09.00-11.00
Committee Session I :
Hal yang dilakukan pada Committee Session I adalah mensetting agenda, terdapat  2 Topic Area yang di tawarkan, dan dalam sidang ini para delegasi dari setiap Negara yang akan berbicara disebut Speaker List. Mengeluarkan pendapat, ide dan keputusan mereka terkait topic yang akan dibahas 5 hari kedepan. Topic yang dipilih didapatkan dari pem,ilihan voting melalui Speaker List tersebut. Kami, delegasi dari Indonesia sendiri mendapatkan Committee yang berbeda-beda, Committee kami terdiri dari UNDP (United Nation Developed Program) Dengan Negara North Korea, UNHRC (United nation Human Right Committee) dengan Negara Haiti, dan DISEC (Disarmaments and International Security Committee) dengan Negara Burma.
11.00-11.30 :
Coffee Break
11.30-14.00 / 15.00-17.00
Committeee Session II & III:
Dalam Session ini debat mulai fokus dan mengarah kepada topic area yang telah ditentukan pada Session I, dalam session ini para delegasi mengajukan motion kepada Moderated Caucuses terkait topic area yang dibahas, diterima atau tidaknya motion yang akan di bahas dilihat dari Voting yang diberikan oleh setiap delegasi masing-masing Negara.

17.30-19.00
Positive Pakistan
Positive Pakistan merupakan salah satu In - Conference Events yang membahas dan mendiskusikan hal yang sesuai dengan tema dari LUMUN ini sendiri “Breaking Barriers, Building Bridges”. Positive Pakistan mengajak para delegasi untuk lebih mengenal para petinggi-petinggi Pakistan yang telah berkiprah di Nasional maupun Internasional.

19.30-22.30
Cultural Cabaret
Cultural Cabaret merupakan salah satu Social Events dalam LUMUN yang mana masing-masing delegasi menampilkan pertunjukan budaya mereka masing-masing, pertunjukan yang ditampilkan sangatlah beragam, mulai dari tari tradisional, modern, drama, komedi, boy band dan girl band. Selain meningkatkan rasa kebersamaan antar delegasi, Event ini sangat sesuai dengan Tema LUMUN, membuat jembatan yang dapat mempersatukan seluruh budaya, tanpaadanya diskriminasi dan perpecahan di dalamnya. Kami, delegasi dari Indonesia sendiri menampilkan Tari “Merak” sebagai tarian tradisional Indonesia.

Kamis, 19 Desember 2013
09.00-11.00 :Committee Session 4
11.00-11.30: Coffee Break
11.30-14.00 : Committee Session 5
Committee Session 4&5:
Dalam session ini dilakukan pembahasan  lebih dalam terkait topic area yang dibahas, masing-masing delegasi juga sudah menentukan dan memilih terkait Blok yang akan mereka pilih untuk membuat Working Paper dan menghasilkan Draft Resolution. dalam session ini pula pembuatan Working Paer menjadi penting, disini pulalah kekompakan dan diplomasi antar delegsi begitu sangat diperlukan.
14.00-15.00 : Lunch
15.00-17.00 : Sosial Responsibility Program Boot Camp and International Delegate
Disini kegiatan antara delegasi pakistandan delegasi internasional dipisah menjadi 2, delegasi Pakistan menghadiri program sosial yang dimiliki LUMS, dimana LUMS menghadirkan lebih dari 100 anak yang tidak berkecukupan untuk dapat berinteraksi dengan para delegasi. SRP sendiri merupakan salah satu program sosial yang dimiliki LUMS yang berpusat mengurusi naka yang tidak mampu untuk dapat bersekolah dan mengubah cara pandang serta pikiran mereka.
Delegasi internasional termasuk kami bertiga telah diberikan agenda lain, yakni melihat sisi kehidupan Lahore dengan berkeliling, serta mengunjungi beberapa lokasi di Walton Cantt, Lahore.
17.30-19.00 : Third Gender a Panel Discussion
In-converence event yang secara signifikan menyinggung isu-isu Human Right (HAM) terutama bagi sebagian kalangan yang mengabaikan “Third Gender “yang berkembang di masyarakat. Sebagai Organisasi  Representatif yang menangani kasus Third Gender  dan identitasnya, Khawaja Saraa memberikan pemaparan secara matang dan dewasa, mereka memaparkan bagaimana rintangan dan ketidak adilan politik masih menghantui para Third Gender, walaupun secara Substansial telah mendapatkan lelegalan identitas dari pemerintahan setempat.
19.30-22.30 : Concert
Konser yang diadakan LUMUN ini berlangsung meriah, ditengah kondisi cuaca yang mendekati 6 derajat celcius, tidak menyurutkan kemeriahan dan antusiasme para delegasi yang hadir.  Dengan menghadirkan band-band dan penyanyi-penyanyi ternama di Pakistan, konser yang berlangsung selama 4 jam ini memberikan kesan tersendiri bagi kami, bahkan kami dari delegasi internasional berkesapatan untuk berfoto dengan para penyayi di atas panggung.

Jum’at, 20 Desember 2013
09.00-11.00 :Committee Session 6
11.00-11.30: Coffee Break
11.30-14.00 : Committee Session 7
Committee Session 6 & 7:
Dalam Session ini masing-masing Blok menunjukkan Working Papernya masing-masing. Pembahasanpun dilanjutkan dengan mendebatkan dan mendiskusikan Working Paper satu dan lainnya. Debat, kritik, diplomasi dalam mempertahankan serta mempertanyakan Working Paper setiap Blok dilakukan di Session ini. Disini pulalah dapat dilihat bagaimana delegasi setiap Negara  mempertimbangkan Working Paper antar Blok mereka, dan mengambil  keputusan untuk pindah atau menetap di Blok mereka masing-masing, hal ini mereka lihat dari keberadaan kepentingan Negara mereka di dalam Working Paper tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam Working Paper ini adalah Format, serta tata cara penulisan yang benar, untuk menghasilkan sebuah Draft resolution.
14.00-15.00 : Lunch
15.00-17.00 : Committee Session 8
Dalam Session ini telah dilakukan pemilihan dan kesepakatan terkait Working Paper yang akan di jadikan Draft Resolution, dalam Session ini pulalah dilakukan perubahan, perbaikan, dan penambahan point pada position paper dilakukan. Dan jika terdapat hal-hal penting terkait topic area yang belum tercantum dalam working paper maka, debat dilanjutkan kembali membahas point tersebut melalui moderated caucuses.
17.30-19.30 : Diplomatic Meet
Diplomatic Meet adalah salah satu In - Conference Events yang menghadirkan para Ex-Ambassador Pakistan. Disini setiap committee didampingi Chair masing-masing, dihadirkan seorang Diplomat Pakistan yang akan membahas dan mendiskusikan Issue-Issue terkait Topik yang dibahas dari masing-masing Committee. Para delegasi bebas menanyakan berbagai macam hal kepada para representative Negara tersebut terkait hal yang bersangkutan dengan Committee mereka.
19.30-22.30 : Formal Dinner 1920z Jazz Theme
Merupakan salah satu acara yang paling ditunggu oleh segenap delegasi, dengan mengusung tema Roaring 20z jazz Theme, formal dinner ini berlangsung meriah menggunakan tatanan dekorasi yang megah menampilkan kesan mewah dipadu dengan kostum-kostum tahun 20-an yang semakin membuat suasana menjadi lebih menarik dan elegan. Hidangan-hidangan seperti Biryani, Bar-B-Q ala Pakistan dan beberapa makanan khas Pakistan lainnya menambah suasana semakin terasa nyaman.
Sabtu, 21 Desember 2013
09.00-13.00 : Committee Session 9&10
Dalam Session 9 dan 10 amandemen baru diajukan dan di vote terkait diterim tidaknya amandement tersebut, para delegasi juga melakukan voting untuk mengesahkan draft resolution yang berasal dari working paper yang telah diterima. Dari hasil voting inilah dapat dilihat apakah Draft resolution akan diterima dan dikeluarkan atau tidak.
13.00-14.00 : Lunch
14.00-18.00 : Closing Ceremony
Closing Ceremony berlangsung cukup lama, karena kami banyak menerima sambutan terima kasih dari beberapa pihak yang bersangkutan dengan LUMUN ini, termasuk para Executive Council dari Panitia LUMUN, sera pemberian penghargaan kepada para panitia terbaik, Delegasi terbaik, dan Institusi terbaik. Selanjutnya dilanjuytkan dengan pembagian sertifikat kepada masing-masing peserta.

22 Desember 2013
Tour ke Lahore Fort dan Badhashi Mosque







Pendidikan Akhlak : Mengajar Dengan Akhlak




Dalam dunia pendidikan, kualitas dan mutu para Siswa acap kali dilihat dari siapa dan bagaimana orang yang mengajar. Disinilah Guru memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan mutu dan kualitas para muridnya, tentu kualitas dan kuantitas yang diinginkan dari para Siswa bukan hanya dalam hal pelajaran, melainkan hal yang menjadi dasar kepribadian yang harus diterapkan sejak dini, Akhlak.
Pada hakikatnya tugas seorang Guru bukanlah hanya sekedar mengajar, melainkan juga mendidik. Karena pengajar dan pendidik memiliki substansi yang berbeda, seorang pengajar belum tentu seorang pendidik, tetapi seorang pendidik sudah tentu seorang pengajar. Seorang pendidik tidak hanya  mengajarkan pelajaran-pelajaran yang diberikan, seorang pendidik dituntut mampu dalam menerapkan Kepribadian dan Akhlak yang baik untuk ditanamkan kepada para Muridnya.
Seperti kita ketahui di Indonesia sendiri kesejahteraan Guru sangat dijamin, terutama bagi para guru yang telah lolos sertifikasi akan mendapatkan gaji yang sangat besar. Tentu saja ini merupakan hal yang positif dan disambut baik, namun alangkah baiknya jika hal ini sesuai dengan Output yang diberikan Guru terhadap muridnya. Dewasa ini angka kriminalitas anak dibawah 17 tahun semakin meningkat, di tahun 2012 tercatat 2008 kasus di kuartal pertama tahun 2012, jumlah itu meliputi semua kasus yakni pencurian, pelecehan seksual, tawuran, bahkan pembunuhan. Peran orang tua dirasa tidak  cukup untuk mendidik dan mengayomi seorang anak 24 jam, karena lebih dari 6-8 jam waktu mereka berada di Sekolah tentu, sekali lagi Guru memiliki peran yang besar dalam penerapan pendidikan karakter bagi Anak-anak.
Pendidikan Akhlak atau pembentukan karakter/mental sangat diutamakan. Sebab, Akhlak merupakan salah satu faktor penentu corak kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya di zaman yang penuh akan tantangan moral, terutama anak-anak dan remaja, penerapan Akhlak dan Moral harus mendapat perhatian utama, tentu ini bukan hanya peran orang tua saja, melainkan para guru yang berperan besar bagi pendidikan dan pengajaran Muridnya.
Ironis sekali, di Indonesia masih banyak  ditemukan guru yang hanya sekedar mengajar karena memenuhi kewajiban saja, dalam artian guru tersebut hanya mengajar karena gaji bulanannya saja, mengajar tanpa menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan hanya sekedar menjalankan kewajiban mengajar, namun juga bagaimana Ia mampu mendidik, dengan mentransfer Akhlak dan Moral yang baik kepada muridnya, tentu ini bukan pekerjaan mudah, namun dengan tekad dan kepercayaan yang kuat, tentu hal ini dapat diaplikasikan.
Konsep Keikhlasan, sebenarnya menjadi kunci pertama yang tidak boleh diabaikan bagi seorang guru, Ikhlas mengajar, Ikhlas mendidik, Ikhlas dalam mengayomi tanpa banyak mengharapkan imbalan. Ikhlas, sesuatu yang bahkan sering diabaikan, tertutup oleh gelimang materi yang  menjanjikan. Sosok-sosok guru seperti Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi, merupakan cerminan para guru yang harus diteladani, dengan menjunjung rasa Keikhlasan dan perjuangan akan pendidikan, mereka mampu menciptakan generasi muda berkualitas di tengah keterbatasan.  Sosok Ustadz Salman dalam negeri Lima Menara juga pantas di teladani, Motivasi dan Keikhlasannya dalam mengajar bahkan tanpa dibayar, mampu diimplementasikan Muridnya, dan membawa serta Muridnya ke dalam pintu kesuksesan. Itulah Guru yang dalam peranannya harus mampu memposisikan diri mereka sebagai orang tua kedua, dalam hal ini tanggung jawab akan amanat yang diberikan harus teraplikasikan, mendidik murid bukan hanya dengan teori tetapi juga aksi, niat dan tujuan yang baik. Sungguh, Karena  Segala Sesuatu yang dimulai dari niat dan tujuan yang baik, maka hasilnya pun akan baik.
Dalam meningkatkan pendidikan akhlak bagi para Siswa , kerjasama antar Guru, Kepala Sekolah, serta masing-masing Instansi pendidikan lainnya dirasa sangat perlu dalam penetapan metode dan penerapan pendidikan akhlak bagi para Siswa, disamping memberikan kesadaran bagi seluruh para guru agar tidak hanya memperhatikan hal akademik saja, namun penerapan akhlak dan kepribadian terhadap siswa harus diperhatikan pula.
di Al-Qur'an pun Ayat-ayat yang berbicara tentang akhlak juga banyak ditemukan, dalam Al-Qur'an Berperilaku dengan Akhlak sudah diatur, Akhlak terhadap orang tua (Al Israa’ : 23-24), tetangga (An Nisaa’ : 36-37), anak yatim (Adh Dhuhaa : 9-11), dan juga terhadap sesama manusia (Al Balad : 12-16) serta di beberapa ayat lainnya. inilah mengapa Akhlak menjadi hal yang krusial untuk terus dikaji dan diterapkan, khususnya penerapan Akhlak sedari dini.