Saat
Dimana Aku “Tak Bisa Mengatakan TIDAK”
Saat dimana kata TIDAK yang terucap di hati tak
mampu terealisasikan oleh lisan
Saat dimana aku tak mampu berkata TIDAK walau
sejenak.
Saat itu saat aku tidak bisa mengatakan TIDAK
Ketika aku tak tahu apa itu keputusan yang tepat
Ataupun sebaliknya
Meski aku tahu
Apa yang akan terjadi setelahnya
Tapi aku...tetap tak bisa mengatakan TIDAK
Hanya karena aku tak mampu mengatakan TIDAK
Dan aku tak bisa....
Tetap tak bisa....
Malang, 8 Juli 2015
RINDU
Dan
Jika hanya memori ini yang tersisa...
Biarlah
ia tersipan rapi
Dalam
ruang khusus
Tak
tersentuh, tak terkoyak..
Tak
hilang walau secuil..
Kelak...
Jika
rindu kembali datang
Dan
hati tak mampu sembuhkan..
Biarlah
memori ini ..
Yang
mampu sembuhkan hati...
Malang, 2 Mei 2015
METAMORFOSA CINTA
Cinta….sebuah kata yang tak pernah habis diulas, sebuah kata yang memiliki ribuan makna, sebuah kata yang mampu merubah hidup manusia didalamnya, sebuah kata yang hangat dan menghinggapi hati setiap insan, tak pelak cinta seolah menjadi sesuatu yang tak pernah habis dibicarakan setiap hari, setiap jam, setiap menit di segala waktu.
Seiring dengan berjalannya waktu dewasa ini fenomena cinta seolah bermetamorfosa di kalangan remaja, masa remaja memang masa yang dipenuhi oleh kata yang bernama cinta, setiap hari tanpa mengenal tempat dan waktu, berbagai kasus masalah percintaan beredar di kalangan remaja, memang itu adalah hal yang wajar karna itu adalah fitrah seorang manusia.
Berbicara masalah metamorfosa yang saya sebutkan diatas tak lain adalah karena cinta sekarang dianggap hampir menjadi satu-satunya tujuan hidup bagi banyak kalangan pelajar dan mahasiswa, cinta yang awalnya mereka anggap sebagai “penyemangat” dalam melakukan segala aktifitas alih-alih menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri, bagaimana tidak mereka banyak mengorbankan waktu, biaya, hanya karena cinta tanpa mempunyai arti yang nyata. Membuang banyak waktu untuk sebuah kata yang namanya “berpacaran” dimana masih banyak hal penting yang harusnya terfikirkan, sudah terlalu banyak korban dari kata Cinta yang tak mampu mengendalikan dan membawa dirinya kearah hakikat cinta itu sendiri, alih-alih menjadi sebuah penyemangat namun pada akhirnya mereka jatuh dalam lubang yang menghancurkan hidup mereka sendiri.
Sebuah refleksi yang perlu ditelisik lebih dalam akan hakikat cinta sendiri, mereka yang rela mengorbankan apapun untuk pasangannya yang notabennya belum terikat oleh suatu “Pernikahan”, tak hanya waktu dan materi, bahkan kerabat dan keluarga sering menjadi sasaran mereka, bagaimana bisa hal itu terjadi disaat mereka melakukan semua itu tanpa didasari adanya pemahaman yang berarti.
Suatu hal yang paling mengenaskan adalah mereka melupakan sang Maha Cinta itu sendiri. Ya, Tuhan yang menciptakan mereka dan menciptakan cinta itu sendiri, Allah S.W.T . Seolah tak ada yang namanya batas pacaran, seoalah mereka tak butuh Tuhan mereka, seolah mereka telah memilih jalan yang benar. Tentu saja ini mengenaskan generasi muda di Negara bermayoritas islam yang akan membawa arah Negara ini kedepannya tidak memiliki pondasi yang kuat dalam akhlaq dan keimanan mereka.
Sudah seharusnya generasi muda ini bangkit memikirkan nasib bangsa, sekarang bahkan setingkat mahasiswa pun masih banyak yang buta akan berbagai macam berita dan kondisi tanah air, buta akan berbagai macam diskusi nasional dan internasional, acuh tak acuh akan apa yang terjadi disekitarnya.
Sudah cukup bangsa ini dijajah secara nyata, sekarang bahkan bangsa ini telah dijajah Ideolodi dan Idealismenya, sudah menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk mampu melawan kuatnya arus globalisasi yang selain menimbulkan keberuntungan juga menimbulkan banyaknya kerugian terutama menjaga dalam menjaga ideologi bangsa Indonesia.
No comments:
Post a Comment