RENUNGAN HATI

SAMPAH HATI


Suatu hari seorang lelaki miskin berjalan di sebuah kompleks perumaham mewah...
Tanpa sadar terdapat sebuah mobil yang keluar dari garasi sebuah rumah yang besar...mobil itu terus mundur tanpa memperhatikan orang yang berjalan di depan rumah tersebut, hingga mobil itu hampir menabrak sang lelaki miskin itu.

Sang sopir akhirnya keluar, mencaci maki si lelaki miskin yang compang tersebut, mamaki dengan kata-kata dan sikap kasar, sedangkan sang lelaki miskin hanya terdiam mendengarkan cacian sang sopir.

Melihat apa yang telah terjadi, sang majikan yang sedari tadi duduk di belakang sopir akhirnya keluar, ia menghentikan makian sang sopir dan menatap sang lelaki miskin sembari bertanya mekapa lelaki tersebut hanya diam saja, padahal sudah jelas itu adalah kelalain sang sopir, dan ia hanya diam saja mendengarkan cacian sopir tersebut.

Lelaki miskin itu dengan tegas menjawab bahwa dirinya tidak ingin menjadi tempat sampah seperti yang dilakukan sang sopir. Menurutnya sang sopir itu hanya menumpuk sampah –sampah dalam dirinya yang menjadikannya seperti sebuah tempat sampah.

Rupanya sang lelaki miskin mencoba menjelaskan bahwa sejatinya manusia cenderung suka menumpuk sampah-sampah ke dalam dirinya, sampah ini merujuk pada kotoran-kotoran yang ada di hati kita selama ini. Kita tidak sadar bahwa amarah, dengki, iri, ghibah yang kotor itu telah menumpuk selama bertahun-tahun dalam sebuah gumpalan daging yang disebut hati, jarang dibersihkan dan dibuang sehingga menjadikan hati kita seperti tempat sampah. Karena amarah selalu mampu mengasai hati dari kesabaran.

Itulah mengapa terkadang meskipun di bulan Ramadhan ini sangat dianjurkan untuk meredam amarah, rasa dengki, iri dan menggunjing, terkadang kita tetap melakukannya dan sulit untuk dihindarkan.

Mengapa demikian...?
Itu karena kita sudah terbiasa menumpuk sampah yang tak pernah dibersihkan. Jikapun ingin dibersihkan tetapi jika hanya dilakukan saat ramadhan tanpa ada ketulusan dan keikhlasan untuk mencoba tidak menumpuk sampah tersebut, tentu akan sulit dilakukan.

Bukankah kita tidak mau menjadi tempat sampah, dan pada akhirnya lelaki miskin tersebut, tka mau menjadi tempat sampah, sampah yang pada akhirnya menumpuk, meluap dan dibuang ke orang lain saking menumpuknya, saking tak terbendung oleh hati ini. Bukankah sudah seharusnya untuk kita membuang sampah-sampah tersebut?






No comments:

Post a Comment