Monday, 12 October 2015

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Malang, 19 September 2015


Dewasa ini perkelahian antar sesama manusia semakin marak terjadi. Namun perkelahian yang marak ini nyatanya bukan hanya terjadi di kalangan pelajar, ataupun anak-anak. Perkelahian ini juga bukan didasari oleh persoalan besar. Bukan. Perkelahian ini terjadi karena gengsi, emosi dan nafsu yang tak bisa di kendalikan hati.
Malam itu jalanan memang lebih ramai dari biasanya. Mungkin faktor malam minggu dan jumlah mahasiswa baru yang semakin bertambah membuat jalan raya disekitar kampus UMM menjadi sangat padat. Seperti biasanya, saya keluar dari komplek perumahan Bukit Cemara Tujuh dan berniat menyebrang ke jalan besar. Motor saya berada tepat dibelakang sebuah motor dan disamping kanan sebuah mobil sedan berplat nomor B. Jalanan yang ramai tanpa henti, membuat semakin banyak kendaraan yang mengantri untuk menyebrang. Tiba-tiba ada sebuah motor berplat nomor AG yang memotong jalan dari arah batu dan berhenti tepat didepan mobil sedan disamping kiri saya tersebut. Motor itu berniat untuk masuk BCT namun terhalang oleh motor-motor yang posisisnya sudah sangat maju ke jalan raya, sehingga ia terus berdiam di depan mobil sedan itu.
Tak lama kemudian, pengendara mobil sedan disamping kanan saya membuka jendelanya dan berteriak pada lelaki pengendara motor untuk cepat minggir dari depan mobilnya. Lelaki pengendara motor itu, sambil mengunyah permen karetnya bersikap acuh dan tetap saja tidak beranjak dari depan mobil sedan tersebut. Pengendara mobil itu akhirnya membuka pintu dan mendatangi pemuda itu. Menggunakna bahsa jawa kasar sembari berteriak ke arah pemuda bermotor untuk pergi. Namun tetap saja, pemuda itu tidak mau pergi dan semakin membalas kata-kata pengendara mobil dengan kasar juga. Pengendara mobil rupanya kesal dan mulai menggoyang-goyang motor pemuda itu. Pemuda itu semakin menantang dengan tidak beranjak dari motornya. Terjadi adu mulut yang sangat lama. Karena kedua belaah pihak tidak ingin mengalah. Akhirnya teman dari pengendara mobil itu kelaur juga dari mobilnya. Saya pikir ia akan melerai kawannya yang terlibat adu mulut dengan pengendara motor. Tapi ternyata tidak. Temannya justru semakin memanaskan suasana dengan mendukung temannya. Motor-motor semakin banyak berada di sekitar mereka, termasuk saya. Namun semuanya perempuan. Dan tidak ada yang berani melerai keduanya. Mereka juga tidak bergegas untuk cepat menyebrang. Karena fokus melihat tontonan perkelahian antara pengendara motor dan mobil tersebut. satpam yang biasanya menjaga di post komplek depan juga tidak terlihat disana. Saya yang tidak ingin berlama-lama disana segera pergi menyebrang. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas perkelahian fisik antar keduanya terjadi ketika saya sudah pergi.

Inilah fenomena yang terjadi saat ini. Andai saja pemuda pengendara motor itu segera beranjak, andai saja pengendara mobil itu tidak bersikap kasar dan bersabar, mungkin perkelahian sengit itu tidak akan terjadi. Mereka terlalu egois, terlalu gengsi untuk saling mengalah satu dengan lainnya. Merasa diri merekalah paling benar dan tidak salah. Padahal mengalah bukan berarti kita kalah. Mengalah untuk menciptakan kedamaian. Mengalah untuk mencegah perkelahian. Mengalah untuk menjadi pribadi yang sabar. Banyak perkelahian terjadi karena masalah-masalah yang sebenarnya sepele. Karena bagi mereka mengalah adalah kalah. Bukan. Jutru sebaliknya. Mengalah adalah kemenangan terbesar bagi kita. Karena kita berhasil untuk meredam ego dan amarah sesaat. Karena sejatinya kita telah menang melawan diri kita sendiri. Sungguh Saya sangat belajar dari kejadian malam itu. Mengalah bukan bebarti kalah. Bukan. 

No comments:

Post a Comment