Peran Media Massa Terhadap War on Terrorism
Peristiwa 11 September
2001 tidak hanya menyisakan berbagai macam spekulasi yang bermunculan di
berbagai kalangan pihak, namun juga memberikan dampak panjang terdapat
perubahan peta politik dunia pasca 9/11. Sejak terjadinya peristiwa tragis
tersebut, masyarakat Amerika Serikat
khususnya diliputi ketakutan akan adanya serangan yang kembali muncul di
sekitar mereka. Menanggapi kasus ini Presiden George W. Bush yang ketika itu
menjabat sebagai Presidan AS mengeluarkan sebuah Kebijakan Luar Negerinya yang
baru dan di fokuskan pada titik kemanan yang dikenal sebagai War on Terrorism sebagai suatu langkah
untuk memerangi terrorisme yang pada saat itu dikenal sebagi pihak yang berada
di balik kasus 9/11. Seperti yang dikatakan bush:
"Every nation in
every region now has a decision to make: Either you are with us or you are with
the terrorists." (
US Foreign Policy After 9/11, http://usforeignpolicy.about.com/od/defense/a/Us-Foreign-Policy-After-9-11.htm,
akses 23 Oktober
2014)
Disamping adanya War on
Terrorism, muncul juga istilah yang disebut sebagai “Doctrine Bush” dimana menurut Bush, kebijakan luar negeri Amerika
Serikat juga harus Preventive bukan
hanya Preemptive actions yang
dibuktikan dengan adanya invasi AS ke Afganisthan pada Oktober 2001 dan Iraq pada
Maret 2003 sebagai alasan untuk mencapai Preventive
Action dan War on Terrorism.
____________
Bachelor of Political Science, IR UMM '12
heavynala.hn@gmail.com
War
on Terrorism telah menjadi ajang pertunjukan
besar bagi seluruh kalangan media dalam mempertontonkan berbagai macam pemberitaan
yang mereka dapatkan. Media memang memiliki peran yang besar dalam mengubah
stereotype masyarakat terhadap suatu isu, kebijakan Bush War on Terrorism juga ditanggapi berbeda dari berbagai kalangan
media internasional. Post 9/11 Media AS seperti Washington Post, New York Times
dan sebagainya sendiri berlomba-lomba
menyangkan berbagai macam pemberitaan terkait Terrorisme yang dapat mengancam
Keamanan warga AS dimanapun dan kapanpun mereka berada dengan menghubung-hubungkan
isu-isu terrorisme yang terjadi sebelum peristiwa 9/11. (Kellner, 2007:4) Di
Inggris, BBC, CNN, NBC, dan Fox News juga memberitakan dan menayangkan
peristiwa 9/11dan War on Terrorism
selama beberapa minggu. Hampir seluruh Journalis AS pada saat itu melepaskan
keobjektifannya dalam melihat peristiwa 9/11 ini, sehingga hampir seluruh media
cetak dan elektronik tampak memojokkan Islam dan dunia Arab. Meski demikian terdapat
sebagian journalis yang memiliki pemikiran yang berlawanan dengan para
Journalis barat lainnya. Dua hari pasca 9/11 Jurnalis The Guardian Seamus Milne, menuliskan hal yang sangat berbeda dari
artikel lainnya. (Pludowski, 2007: 33) Dalam tulisannya “They can’t see why they are hated” Milne menyatakan bahwa kejadian
ini terjadi akibat sikap arogan dan ketidakadilan AS sebagai negara Dominan dalam
memperlakukan negara-negara berkembang, sehingga menimbulkan kebencian di hati
para orang-orang yang merasa tertindas oleh ulah AS.
9/11
dan Invasi AS ke Iraq dan Afghanisthan
War
on Terrorism bukan hanya mengubah arah
kebijakan keamanan AS namun juga merubah peta konflik yang ada di dunia.
konflik memang isu kemaanan yang paling banyak menyita perhatian, latar
belakang terjadinya konflik pun bermacam-macam. 9/11 dapat dikatakan sebagai
titik balik perubahan peta konflik dunia, khususnya setelah kebijakan War on
Terrorism ini dikeluarkan.
AS menginvasi
Afghanistan didasari dasar kecurigaan bahwa AL-Qaeda dan Taliban yang bermarkas
di dalamnya menjadi tersangka utama atas
rentetan peristiwa 9/11 dan serangan-serangan bom bunuh diri beberapa
hari pasca 9/11 terjadi. (Khalid, Vol.2, No.11 2011: 2) Sedangkan Invasi AS ke
Iraq lebih didasarkan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal oleh rezim
Saddam Hussein dimana Senjata Pemusnah Massal Iraq dikhawatirkan menjadi
ancaman baru bagi penyebaran teroris-teroris baru yang akan kembali mengancam
keamanan masyarakat Internasional secara umum. Selain itu kediktatoran Saddam
yang menurut AS melanggar prinsip Demokrasi juga menjadi salah satu alasan AS
untuk menginvasi Iraq dan tentu sekali lagi 9/11 menjadi alasan dalam menjustifikasi
tindakannya ini.
Dalam sebuah konflik
yang terjadi media memang memiliki kontribusi yang besar baik peran aktif media
yang semakin dapat memperburuk tingkatan konflik, atau media yang bersikap
independent di luar konflik sehingga mampu menjadi alat yang dapat meresolusi
konflik dan mengurangi tingkat kekerasan yang ada. (Puddheppat, 2006: 4) Media
massa adalah salah satu instrument yang digunakan Presiden Bush ketika AS
menginvasi Afghanistan dan Iraq dalam upaya memperoleh dukungan Internasional.
Media massa AS contohnya mempublikasikan berbagai berita terkait Iraq dan
Afghanistan sebagai negara yang dapat mengancam kemanan negara lainnya, dan
bahwa Taliban, Al-Qaeda sebagai kelompok terroris yang harus ditindak lanjuti
dengan segera sehingga secara tidak langsung media massa AS membentuk opini
public bahwa invasi AS ke Afhganistan bertujuan untuk melawan Taliban dan ke
Iraq untuk memberantas senjata pemusnah massal yang dimiliki rezim Saddam
Hussein.
Media
Massa dalam membentuk Stereotype “Middle East Conflict”
Dimanakah Konflik dunia saat ini
terpusat? Maka Timur Tengah adalah wilayah yang akan kita sebut pertama
kalinya, Invasi AS ke Afganisthan dan
Iraq dapat dikatakan sebagai titik balik perpindahan peta konflik dunia masa
kini, mengapa hal ini dapat terjadi? Jika kita menarik kebelakang maka kita
akan memahami bahwa meskipun konflik di wilayah timur tengah sudah berlangsung
jauh sebelum adanya peristiwa 9/11, seperti Perang Teluk di tahun 90-an, atau
bahkan konflik Israel-Palestina yang sudah muncul di akhir abad ke-19. Namun
konflik di Timur Tengah semakin berkembang khususnya sejak Invasi AS ke irak
dalam kurun waktu yang sangat lama 2003-2011 dimana alih-alih Amerika ingin
menanamkan nilai demokrasi di Iraq justru kekacauan politik, konflik antar
etnis agama, serta ribuan korban sipil
lah yang berjatuhan.
Lantas bagaimanakah
peran media massa internasional dalam membentuk opini public terkait konflik
Timur-Tengah yang semakin berkembang ? seperti yang kita ketahui bahwa fenomena
Arab Spring yang pada awalnya muncul di Tunisia dan Mesir tahun 2011 memiliki
pengaruh yang besar dalam memberikan pengaruh terhadap negara-negara di kawasan
Timur-Tengah lainnya. AS memang telah menarik pasukannya dari Irak di tahun
2011, tetapi nampaknya isu-isu demokrasi yang gagal dibawa AS ke Iraq justru
malah memiliki pengaruh kepada negara-negara tetangga Iraq di kawasan
Timur-Tengah. Manipulasi dan propaganda pun mulai dimainkan oleh negara-negara
non Timur-Tengah yang memiliki kepentingan di kawasan yang dikenal sebagai Black Gold tersebut terhitung dalam
kurun waktu 2011-2014 sebanyak 6 negara bergejolak di kawasan Timur-Tengah.
situasi ini semakin diperparah dengan pemberitaan media massa lokal maupun
internasional yang justru semakin memperparah keadaan yang ada dengan memberitakan
pemberitaan yang tidak bebas nilai dalam artian masih berpihak pada salah satu
pihak saja.
Pada masa Pra dan Pasca Invasi AS ke
Iraq CNN dan News Corporation (News Corps)
menjadi salah satu media massa yang paling gentar memberitakan kepemilikan
senjata pemusnah massal di Iraq, juga mempublikasikan bahwa jaringan terorisme
Al-Qaeda dan Talibanlah yang berada di balik serangan-serangan terror 9/11.(Juwita,
2003: 7) Hal ini dilakukan untuk meyakinkan dan mendapatkan opini public serta
simpatisme masyarakat dunia internasional agar menyetujui hal yang dilakukan AS
dengan menginvasi Irak dan Afghanistan, disini dapat dilihat bahwa media
berperan besar dalam mempengaruhi kebijakan suatu negara dalam mengambil
keputusannya.
Pemberitaan media massa
internasional akan konflik berkepanjangan yang banyak terjadi di kawasan Timur
Tengah inilah yang secara tidak langsung membentuk stereotype masyarakat dunia
internasional akan Middle East Conflict
bahwa konflik dunia saat ini terjadi secara massive di kawasan Timur Tengah.
dan mengapa Timur Tengah? karena di kawasan inilah konflik politik, sectarian
agama, kelompok radikal, jaringan terorisme berkembang. Tentu pemberitaan
seperti ini tidak lepas dari besarnya peranan media dalam penyampaian berita
yang mereka miliki. The New York Times menuliskan
“13 Years After 9/11, The War on Terror
Has a New Focus” (The New York Times, 12 September 2014) dalam 13 tahun
peringatan peristiwa 9/11, artikel tersebut mengutip pidato Obama yang menyebutkan
bahwa meskipun 13 tahun pasca 9/11 telah berlalu, namun kebijakan War on Terrorism masih terus berlanjut
hingga saat ini, seperti halnya isu ISIS yang sedang marak berkembang. Di
kawasan Irak dan Suriah sendiri kemunculan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) yang merupakan kelompok eksterimis
Islam menjadi ancaman baru tidak hanya bagi kawasan-kawasan Timur-Tengah namun
juga kawasan regional lainnya. Washington
Post dalam artikelnya “9 Attemps to
explain the crazy complexity of the Middle East” (Washington Post, 1
Oktober 2014) lebih menjelaskan berbagai macam kompleksitas negera-negara di
kawasan Timur-Tengah antara satu dan lainnya. Baik kompleksitas sistem politik,
rezim kekuasaan, konflik sectarian, perebutan wilayah dan sebagainya.
Dari berbagai macam
pemberitaan media inilah terbentuk opini public bahwa konflik pasca 9/11
terfokus di kawasan Timur-Tengah dengan berbagai macam kompleksitas di
dalamnya. Dari sini pula dapat kita lihat bahwa peta konflik dunia di abad
ke-20 ini telah banyak berubah. Kebijakan AS War on Terrorism menjadi faktor terbesar berubahnya peta konflik
dunia masa kini, wilayah Timur-Tengah memang memiliki sejarah konflik yang
panjang jauh sebelum peristiwa 9/11, namun sejak invasi yang dilakukan AS ke
Afghanistan dan bahkan Irak hingga tahun 2011, memiliki bekas yang kelam dan
semakin memperburuk kondisi domestic Timur-Tengah Sendiri. terutama pemberitaan
media-media yang memiliki kepentingan sepihak, rupanya telah menambah kesan
tersendiri dalam benak masyarakat, bahwa konflik dunia saat ini memang terpusat
di kawasan kompleks yang bernama Timur-Tengah. 9/11 memang telah 13 tahun
berlalu namun dampak yang ditimbulkan seakan tidak pernah memudar. Dan melihat
konflik yang ada di Timur-Tengah dengan beberapa negara barat yang berkepentingan semakin menggambarkan
dengan jelas apa yang dikatakan Samual Huntington dalam The Clash of Civilization, bahwa semua perpecahan di dunia yang
terjadi di dunia ini, didasarkan atas Barat dan timur. Bahwa konflik yang ada
hanyalah masalah perbedaan barat dan timur, yang memiliki peradaban yang
berebeda.
Konflik memang tidak
dapat dihindari tetapi dapat diminimalisasi, penyebab konflik itu sendiri
begitu beragam dan peristiwa 9/11 menciptakan konflik luas dan berkepanjangan
yang ditujukan untuk suatu pihak. Sebagai negara superpower yang mendominasi
kekuatan dunia, Amerika menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk mendapatkan
legalitas masyarakat internasional dalam menginvasi negara-negara islam
khususnya di wilayah timur-tengah atas dasar
keamanan dan kecurigaan semata. Konflik itu pun merubah tatanah
kehidupan masyarakat Islam di Timur-Tengah dimana konflik sectarian, dan
konflik domestic rezim menjadi semakin berkembang.
Media massa pun dalam
perkembangan kasus 9/11 ini terlihat tidak netral dalam memberitakan
peristiwa-peristiwa terkait. Agaknya sikap media barat yang tidak netral ini
menjadi agenda kepentingan media-media itu sendiri. padahal dampak sosial yang
terjadi sangatlah menghawatirkan. Disinilah peran media kembali dipertanyakan,
akankah keterlibatan media dapat menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik
atau malah sebaliknya, media turut menajdi actor yang juga menikmati permainan
dalam konflik tersebut. Seperti halnya 9/11 dimana kita dapat melihat
ketidaknetralan media barat dalam mengolah kasus dan informasi yang ada.
DAFTAR
PUSTAKA:
US
Foreign Policy After 9/11 Diakses dalam : http://usforeignpolicy.about.com/od/defense/a/Us-Foreign-Policy-After-9-11.htm
diakses
pada 22 Oktober 2014
Kellner,
Douglas. 2007. “9/11, Spectacles of
Terror, and Media Manipulation: A Critique of Jihadist and Bush Media Politics”.
diakses dalam http://www.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/ diakses pada 8 Oktober 2014
Pludowski,
Thomas. 2006. “How The World Media
Reacted to 9/11”, Marquatte Books LLC, Spokane, Washingthon. Diakses dalam: http://www.marquettebooks.com/images/911Book.pdf diakses pada 6 Oktober 2014
Khalid,
Iram. 2011. Politics of Intervention; Kosovo, Iraq and Afghanisthan,
International Journal of Bussiness and Social Science Vol.2 No. diakses dalam http://www.ijbssnet.com/journals/Vol._2_No._11_[Special_Issue-June_2011]/10.pdf
Pudheppat,
Andrew. 2006. War and the Role of Media, International Media Support, Diakses
dalam: http://www.mediasupport.org/wp-content/uploads/2012/11/ims-voices-of-war-2006.pdf diakses pada 10 Oktober 2014
Juwita,
R.A Cintya Nurma. 2003. Peran Media
Massa di Amerika Serikatdalam Mempengaruhi Kebijakan Invasi ke Irak Pada Tahun
2003, Diakses dalam: http://ojs.unud.ac.id/index.php/hi/article/download/9844/7370 diakses
pada 23 Oktober 2014
The
New York Times, 12 September 2014, Diakses dalam: http://www.nytimes.com/2014/09/14/opinion/sunday/13-years-after-9-11-the-war-on-terror-has-a-new-focus.html diakses
pada 24 Oktober 2014
Washington Post, 1 Oktober 2014, Diakses dalam: http://www.washingtonpost.com/blogs/worldviews/wp/2014/10/01/9-attempts-to-explain-the-crazy-complexity-of-the-middle-east/ diakses pada 24 Oktober 2014
Di indonesia Media sangat kental ya pengaruh nya..
ReplyDeleteMampir ke http://angkatransel09.blogspot.co.id yaa...