Friday, 30 September 2016

Peran Media Massa Post 9/11 dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Peta Konflik Dunia Masa Kini

Heavy Nala Estriani*


Peran Media Massa Terhadap War on Terrorism
Peristiwa 11 September 2001 tidak hanya menyisakan berbagai macam spekulasi yang bermunculan di berbagai kalangan pihak, namun juga memberikan dampak panjang terdapat perubahan peta politik dunia pasca 9/11. Sejak terjadinya peristiwa tragis tersebut, masyarakat Amerika Serikat  khususnya diliputi ketakutan akan adanya serangan yang kembali muncul di sekitar mereka. Menanggapi kasus ini Presiden George W. Bush yang ketika itu menjabat sebagai Presidan AS mengeluarkan sebuah Kebijakan Luar Negerinya yang baru dan di fokuskan pada titik kemanan yang dikenal sebagai War on Terrorism sebagai suatu langkah untuk memerangi terrorisme yang pada saat itu dikenal sebagi pihak yang berada di balik kasus 9/11. Seperti yang dikatakan bush:

"Every nation in every region now has a decision to make: Either you are with us or you are with the terrorists." ( US Foreign Policy After 9/11, http://usforeignpolicy.about.com/od/defense/a/Us-Foreign-Policy-After-9-11.htm,
akses 23 Oktober 2014)

Disamping adanya War on Terrorism, muncul juga istilah yang disebut sebagai “Doctrine Bush” dimana menurut Bush, kebijakan luar negeri Amerika Serikat juga harus Preventive bukan hanya Preemptive actions yang dibuktikan dengan adanya invasi AS ke Afganisthan pada Oktober 2001 dan Iraq pada Maret 2003 sebagai alasan untuk mencapai Preventive Action dan War on Terrorism.
____________
Bachelor of Political Science, IR UMM '12
heavynala.hn@gmail.com 

War on Terrorism telah menjadi ajang pertunjukan besar bagi seluruh kalangan media dalam mempertontonkan  berbagai macam pemberitaan yang mereka dapatkan. Media memang memiliki peran yang besar dalam mengubah stereotype masyarakat terhadap suatu isu, kebijakan Bush War on Terrorism juga ditanggapi berbeda dari berbagai kalangan media internasional. Post 9/11 Media AS seperti Washington Post, New York Times dan sebagainya  sendiri berlomba-lomba menyangkan berbagai macam pemberitaan terkait Terrorisme yang dapat mengancam Keamanan warga AS dimanapun dan kapanpun mereka berada dengan menghubung-hubungkan isu-isu terrorisme yang terjadi sebelum peristiwa 9/11. (Kellner, 2007:4) Di Inggris, BBC, CNN, NBC, dan Fox News juga memberitakan dan menayangkan peristiwa 9/11dan War on Terrorism selama beberapa minggu. Hampir seluruh Journalis AS pada saat itu melepaskan keobjektifannya dalam melihat peristiwa 9/11 ini, sehingga hampir seluruh media cetak dan elektronik tampak memojokkan Islam dan dunia Arab. Meski demikian terdapat sebagian journalis yang memiliki pemikiran yang berlawanan dengan para Journalis barat lainnya. Dua hari pasca 9/11 Jurnalis The Guardian Seamus Milne, menuliskan hal yang sangat berbeda dari artikel lainnya. (Pludowski, 2007: 33) Dalam tulisannya “They can’t see why they are hated” Milne menyatakan bahwa kejadian ini terjadi akibat sikap arogan dan ketidakadilan AS sebagai negara Dominan dalam memperlakukan negara-negara berkembang, sehingga menimbulkan kebencian di hati para orang-orang yang merasa tertindas oleh ulah AS.

9/11 dan Invasi AS ke Iraq dan Afghanisthan
War on Terrorism bukan hanya mengubah arah kebijakan keamanan AS namun juga merubah peta konflik yang ada di dunia. konflik memang isu kemaanan yang paling banyak menyita perhatian, latar belakang terjadinya konflik pun bermacam-macam. 9/11 dapat dikatakan sebagai titik balik perubahan peta konflik dunia, khususnya setelah kebijakan War on Terrorism ini dikeluarkan.
AS menginvasi Afghanistan didasari dasar kecurigaan bahwa AL-Qaeda dan Taliban yang bermarkas di dalamnya menjadi tersangka utama atas  rentetan peristiwa 9/11 dan serangan-serangan bom bunuh diri beberapa hari pasca 9/11 terjadi. (Khalid, Vol.2, No.11 2011: 2) Sedangkan Invasi AS ke Iraq lebih didasarkan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal oleh rezim Saddam Hussein dimana Senjata Pemusnah Massal Iraq dikhawatirkan menjadi ancaman baru bagi penyebaran teroris-teroris baru yang akan kembali mengancam keamanan masyarakat Internasional secara umum. Selain itu kediktatoran Saddam yang menurut AS melanggar prinsip Demokrasi juga menjadi salah satu alasan AS untuk menginvasi Iraq dan tentu sekali lagi 9/11 menjadi alasan dalam menjustifikasi tindakannya ini.
Dalam sebuah konflik yang terjadi media memang memiliki kontribusi yang besar baik peran aktif media yang semakin dapat memperburuk tingkatan konflik, atau media yang bersikap independent di luar konflik sehingga mampu menjadi alat yang dapat meresolusi konflik dan mengurangi tingkat kekerasan yang ada. (Puddheppat, 2006: 4) Media massa adalah salah satu instrument yang digunakan Presiden Bush ketika AS menginvasi Afghanistan dan Iraq dalam upaya memperoleh dukungan Internasional. Media massa AS contohnya mempublikasikan berbagai berita terkait Iraq dan Afghanistan sebagai negara yang dapat mengancam kemanan negara lainnya, dan bahwa Taliban, Al-Qaeda sebagai kelompok terroris yang harus ditindak lanjuti dengan segera sehingga secara tidak langsung media massa AS membentuk opini public bahwa invasi AS ke Afhganistan bertujuan untuk melawan Taliban dan ke Iraq untuk memberantas senjata pemusnah massal yang dimiliki rezim Saddam Hussein.

Media Massa dalam membentuk Stereotype “Middle East Conflict”
            Dimanakah Konflik dunia saat ini terpusat? Maka Timur Tengah adalah wilayah yang akan kita sebut pertama kalinya,  Invasi AS ke Afganisthan dan Iraq dapat dikatakan sebagai titik balik perpindahan peta konflik dunia masa kini, mengapa hal ini dapat terjadi? Jika kita menarik kebelakang maka kita akan memahami bahwa meskipun konflik di wilayah timur tengah sudah berlangsung jauh sebelum adanya peristiwa 9/11, seperti Perang Teluk di tahun 90-an, atau bahkan konflik Israel-Palestina yang sudah muncul di akhir abad ke-19. Namun konflik di Timur Tengah semakin berkembang khususnya sejak Invasi AS ke irak dalam kurun waktu yang sangat lama 2003-2011 dimana alih-alih Amerika ingin menanamkan nilai demokrasi di Iraq justru kekacauan politik, konflik antar etnis agama, serta  ribuan korban sipil lah yang berjatuhan.
Lantas bagaimanakah peran media massa internasional dalam membentuk opini public terkait konflik Timur-Tengah yang semakin berkembang ? seperti yang kita ketahui bahwa fenomena Arab Spring yang pada awalnya muncul di Tunisia dan Mesir tahun 2011 memiliki pengaruh yang besar dalam memberikan pengaruh terhadap negara-negara di kawasan Timur-Tengah lainnya. AS memang telah menarik pasukannya dari Irak di tahun 2011, tetapi nampaknya isu-isu demokrasi yang gagal dibawa AS ke Iraq justru malah memiliki pengaruh kepada negara-negara tetangga Iraq di kawasan Timur-Tengah. Manipulasi dan propaganda pun mulai dimainkan oleh negara-negara non Timur-Tengah yang memiliki kepentingan di kawasan yang dikenal sebagai Black Gold tersebut terhitung dalam kurun waktu 2011-2014 sebanyak 6 negara bergejolak di kawasan Timur-Tengah. situasi ini semakin diperparah dengan pemberitaan media massa lokal maupun internasional yang justru semakin memperparah keadaan yang ada dengan memberitakan pemberitaan yang tidak bebas nilai dalam artian masih berpihak pada salah satu pihak saja.
Pada masa Pra dan Pasca Invasi AS ke Iraq CNN dan News Corporation (News Corps) menjadi salah satu media massa yang paling gentar memberitakan kepemilikan senjata pemusnah massal di Iraq, juga mempublikasikan bahwa jaringan terorisme Al-Qaeda dan Talibanlah yang berada di balik serangan-serangan terror 9/11.(Juwita, 2003: 7) Hal ini dilakukan untuk meyakinkan dan mendapatkan opini public serta simpatisme masyarakat dunia internasional agar menyetujui hal yang dilakukan AS dengan menginvasi Irak dan Afghanistan, disini dapat dilihat bahwa media berperan besar dalam mempengaruhi kebijakan suatu negara dalam mengambil keputusannya.
Pemberitaan media massa internasional akan konflik berkepanjangan yang banyak terjadi di kawasan Timur Tengah inilah yang secara tidak langsung membentuk stereotype masyarakat dunia internasional akan Middle East Conflict bahwa konflik dunia saat ini terjadi secara massive di kawasan Timur Tengah. dan mengapa Timur Tengah? karena di kawasan inilah konflik politik, sectarian agama, kelompok radikal, jaringan terorisme berkembang. Tentu pemberitaan seperti ini tidak lepas dari besarnya peranan media dalam penyampaian berita yang mereka miliki. The New York Times menuliskan “13 Years After 9/11, The War on Terror Has a New Focus” (The New York Times, 12 September 2014) dalam 13 tahun peringatan peristiwa 9/11, artikel tersebut mengutip pidato Obama yang menyebutkan bahwa meskipun 13 tahun pasca 9/11 telah berlalu, namun kebijakan War on Terrorism masih terus berlanjut hingga saat ini, seperti halnya isu ISIS yang sedang marak berkembang. Di kawasan Irak dan Suriah sendiri kemunculan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) yang merupakan kelompok eksterimis Islam menjadi ancaman baru tidak hanya bagi kawasan-kawasan Timur-Tengah namun juga kawasan regional lainnya. Washington Post dalam artikelnya “9 Attemps to explain the crazy complexity of the Middle East” (Washington Post, 1 Oktober 2014) lebih menjelaskan berbagai macam kompleksitas negera-negara di kawasan Timur-Tengah antara satu dan lainnya. Baik kompleksitas sistem politik, rezim kekuasaan, konflik sectarian, perebutan wilayah dan sebagainya.
Dari berbagai macam pemberitaan media inilah terbentuk opini public bahwa konflik pasca 9/11 terfokus di kawasan Timur-Tengah dengan berbagai macam kompleksitas di dalamnya. Dari sini pula dapat kita lihat bahwa peta konflik dunia di abad ke-20 ini telah banyak berubah. Kebijakan AS War on Terrorism menjadi faktor terbesar berubahnya peta konflik dunia masa kini, wilayah Timur-Tengah memang memiliki sejarah konflik yang panjang jauh sebelum peristiwa 9/11, namun sejak invasi yang dilakukan AS ke Afghanistan dan bahkan Irak hingga tahun 2011, memiliki bekas yang kelam dan semakin memperburuk kondisi domestic Timur-Tengah Sendiri. terutama pemberitaan media-media yang memiliki kepentingan sepihak, rupanya telah menambah kesan tersendiri dalam benak masyarakat, bahwa konflik dunia saat ini memang terpusat di kawasan kompleks yang bernama Timur-Tengah. 9/11 memang telah 13 tahun berlalu namun dampak yang ditimbulkan seakan tidak pernah memudar. Dan melihat konflik yang ada di Timur-Tengah dengan beberapa negara barat  yang berkepentingan semakin menggambarkan dengan jelas apa yang dikatakan Samual Huntington dalam The Clash of Civilization, bahwa semua perpecahan di dunia yang terjadi di dunia ini, didasarkan atas Barat dan timur. Bahwa konflik yang ada hanyalah masalah perbedaan barat dan timur, yang memiliki peradaban yang berebeda.
Konflik memang tidak dapat dihindari tetapi dapat diminimalisasi, penyebab konflik itu sendiri begitu beragam dan peristiwa 9/11 menciptakan konflik luas dan berkepanjangan yang ditujukan untuk suatu pihak. Sebagai negara superpower yang mendominasi kekuatan dunia, Amerika menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk mendapatkan legalitas masyarakat internasional dalam menginvasi negara-negara islam khususnya di wilayah timur-tengah atas dasar  keamanan dan kecurigaan semata. Konflik itu pun merubah tatanah kehidupan masyarakat Islam di Timur-Tengah dimana konflik sectarian, dan konflik domestic rezim menjadi semakin berkembang.
Media massa pun dalam perkembangan kasus 9/11 ini terlihat tidak netral dalam memberitakan peristiwa-peristiwa terkait. Agaknya sikap media barat yang tidak netral ini menjadi agenda kepentingan media-media itu sendiri. padahal dampak sosial yang terjadi sangatlah menghawatirkan. Disinilah peran media kembali dipertanyakan, akankah keterlibatan media dapat menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik atau malah sebaliknya, media turut menajdi actor yang juga menikmati permainan dalam konflik tersebut. Seperti halnya 9/11 dimana kita dapat melihat ketidaknetralan media barat dalam mengolah kasus dan informasi yang ada.



DAFTAR PUSTAKA:

US Foreign Policy After 9/11 Diakses dalam : http://usforeignpolicy.about.com/od/defense/a/Us-Foreign-Policy-After-9-11.htm diakses pada 22 Oktober 2014

Kellner, Douglas. 2007.  “9/11, Spectacles of Terror, and Media Manipulation: A Critique of Jihadist and Bush Media Politics”. diakses dalam http://www.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/ diakses pada 8 Oktober 2014

Pludowski, Thomas. 2006.  “How The World Media Reacted to 9/11”, Marquatte Books LLC, Spokane, Washingthon. Diakses dalam: http://www.marquettebooks.com/images/911Book.pdf  diakses pada 6 Oktober 2014


Khalid, Iram. 2011. Politics of Intervention; Kosovo, Iraq and Afghanisthan, International Journal of Bussiness and Social Science Vol.2 No. diakses dalam http://www.ijbssnet.com/journals/Vol._2_No._11_[Special_Issue-June_2011]/10.pdf


Pudheppat, Andrew. 2006. War and the Role of Media, International Media Support, Diakses dalam: http://www.mediasupport.org/wp-content/uploads/2012/11/ims-voices-of-war-2006.pdf  diakses pada 10 Oktober 2014

Juwita, R.A Cintya Nurma. 2003.  Peran Media Massa di Amerika Serikatdalam Mempengaruhi Kebijakan Invasi ke Irak Pada Tahun 2003, Diakses dalam: http://ojs.unud.ac.id/index.php/hi/article/download/9844/7370 diakses pada 23 Oktober 2014

The New York Times, 12 September 2014, Diakses dalam: http://www.nytimes.com/2014/09/14/opinion/sunday/13-years-after-9-11-the-war-on-terror-has-a-new-focus.html  diakses pada 24 Oktober 2014


Washington Post, 1 Oktober 2014, Diakses dalam: http://www.washingtonpost.com/blogs/worldviews/wp/2014/10/01/9-attempts-to-explain-the-crazy-complexity-of-the-middle-east/   diakses pada 24 Oktober 2014

1 comment:

  1. Di indonesia Media sangat kental ya pengaruh nya..
    Mampir ke http://angkatransel09.blogspot.co.id yaa...

    ReplyDelete