Friday, 30 September 2016

Syrian Conflict: A Road Map to Peace


                                              Oleh: Heavy Nala Estriani*

Abstract
The Arab Spring phenomenon has result an involute democratic transition towards Syrian political system. Begin in 2011, the rigidity between Assad rezim and opposition exacerbated by the support of external actor, sectarian conflict and the rise of ISIS. Conflict resolution become an essential way to end the prolonged conflict. Peace talks among parties, even many more agreement and resolution peace settlement, has been adopted to put an end the conflict. However, there will be no peace in Syria, unless the disputing parties able to sit in one round table.
Key Words: Arab Spring, Conflict, Resolution, Peace
Pendahuluan
Kompleksitas kawasan Timur-Tengah dapat terlihat dari munculnya fenomena Arab Spring yang melanda hampir seluruh Negara di kawasan Timur-Tengah, tanpa terkecuali Suriah. Fenomena yang muncul pertama kali di Tunisia ini, meskipun pada dasarnya memiliki pola yang Sama, namun memiliki hasil yang berbeda di setiap Negara. Tampaknya, Fenomena Spring yang diharapkan mampu menumbuhkan transisi demokrasi yang baru di Negara-negara Arab, namun pada kenyataannya banyak pihak yang meyakini bahwa Arab Spring yang muncul sejak tahun 2010 ini hanya berhasil terjadi di Tunisia saja, meskipun masih dalam tahapan transisi. Di Mesir, meskipun telah menumbangkan dua rezim dalam kurun waktu tiga tahun, namun hingga Abdul Fatah El-Sisi berkuasa saat ini, demokrasi yang mereka idamkan masih terlihat abstrak. Hal yang sama juga terjadi di Libya, Yaman dan Bahrain. Arab Spring yang terjadi di Suriah dapat dikatakan yang memiliki kurun waktu yang paling panjang. Sejak bergejolak di tahun 2011 lalu, hingga saat ini musim semi yang diharapkan dapat mekar di Suriah, hanya tinggal angan belaka.
 
_________________
Bachelor of Political Science, IR UMM’12
heavynala.hn@gmail.com

Gejolak yang terjadi di Suriah telah memasuki tahun ke-empat, sejak protest yang pertama kali terjadi di tahun 2011, belum ada tanda-tanda yang jelas akan adanya resolusi konflik yang terjadi di Suriah. Sebanyak 21. 060 orang dilaporkan tewas sejak tulisan ini diterbitkan Menurut data yang dikeluarkan oleh United Nation Population Fund, sebanyak 7, 6 juta Pengungsi Suriah tersebar di beberapa Negara tetangga akibat konflik berkepanjangan[1] Masalah peningkatan jumlah pengungsi ini juga menambah deretan masalah baru bagi Negara yang bersangkutan. Di Iraq terdapat lebih dari 2 juta pengungsi yang terancam akibat konflik etnis dan suku serta ancaman ISIS yang semakin berkembang. Dilain pihak Lebanon, Jordania Turki dan Mesir juga menjadi Negara yang terkena dampak dengan total pengungsi Lebanon yang mencapai 1,8 Juta, Jordania 619.000, Turki 1.645.000 dan Mesir 137.504 Pengungsi.[2]
Melihat konflik berkepanjangan yang mengancam humanitarian situation Suriah, baik yang masih berada di dalam maupun para pengungi di luar Suriah, tentu berbagai upaya dilakukan untuk meredam gejolak konflik berkepanjangan ini. Namun penyelesaian konflik Suriah tidak semudah seperti yang terjadi pada krisis di Libya. Libya memiliki resolusi konflik yang dapat dikatakan lebih cepat dibandingkan dengan konflik Suriah, hal ini dapat dilihat jelas dengan adanya Intervensi yang dilakukan NATO atas usulan Uni eropa yang bagi sebagian kalangan diangap sebagai justifikasi dari dikeluarkannya Resolusi DK PBB No.1973, yang dalam misi kemanusiaan di Libya tersebut NATO mendapat rekomendasi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi oleh usulan DK PBB.[3]
Dalam kasus Suriah, mandat PBB untuk melakukan intervensi, secara langsung mendapatkan veto dari Rusia dan China yang mendukung pemerintahan Bashar Al-Assad. Hal ini juga diperparah akan munculnya konflik sektarian yang seakan tidak memiliki titik temu. Berbagai macam proposal resolusi konflik telah diajukan sejak 2011 lalu, namun tidak ada yang membawa hasil hingga saat ini. Lantas akankah ada jawaban dalam akhir konflik suriah? Atau akankah jawaban dari konflik ini sesuai dengan teori Edward Luttwak yang dalam disertasinya “Give War a Chance” yang dapat diartikan, biarlah perang tejadi, karna akan ada akhir dari perang tersebut yang pada akhirnya akan membawa kedamaian yang diimpikan.[4]

Konsep Resolusi Konflik
Berakhirnya perang dingin menjadi pertanda berakhirnya system bipolarisme dunia, dan memunculkan keadaan unipolarisme yang saat ini mulai tergantikan dengan kemunculan multipolarisme yang tidak terlepas dari isu globalisasi yang juga berdampak pada isu pengembangan senjata nuklir, terorisme, dan konflik anatar negera adikuasa dalam memperebutkan kekuasaan dan dominasi dunia saat ini. Tentu hal ini menimbulkan ancaman besar pada kondisi keamanan masyarakat internasional.
 Resolusi konflik muncul sebagai sebagai sebuah studi yang bukan hanya menjadi konstruksi teori yang abstrak namun telah menjadi elemen baik bagi penelitian akademik maupun kebijakan praktis. Tantangan baru yang muncul pasca perang dingin tentu menjadikan resolusi konflik bukanlah hal yang mudah, namun konsep ini juga mengalami penegembangan dan dengan melihat  keberhasilan pengelamannya dalam menyelesaian berbagai konflik yang ada, sehingga resolusi konflik masih berlaku dan sangat dibutuhkan di era saat ini.[5]
Konflik berkepanjangan tentu akan menimbulkan kerugian baik secara moral maupun materil, seperti konflik Suriah yang pada akhirnya memberikan ancaman stabilitas kemanan regional di Timur-Tengah. Untuk mencegah konflik berkepanjangan, dibutuhkan adanya resolusi konflik dalam penyelesaiannya. Resolusi konflik dapat diselesaikan dengan berbagai cara, baik antara pihak yang bertikai, maupun melalui pihak baik duta perdamaian atau organisasi internasional yang ada.
Coob dan Elder dalam literasinya mencoba menformulasikan resolusi konflik dengan memetakan konflik dari 1) Luasnya konflik, yakni semakin luas konflik maka harus didekati dari banyak sisi. 2) Intensitas konflik yakni semakin intens konflik maka harus didekati dengan resolusi yang juga intens. 3) Ketampakan Konflik, semakin ketampakannya tinggi maka dibutuhkan formula penyelesaian yang juga semakin jelas atau manifest.[6]
Terdapat setidaknya terdapat tiga cara dalam penyelesaian konflik menurut Johan Galtung yaitu:
1.      Peacekeeping, adalah peroses menghentikan atau mengurangi aksi kekerasan menggunakan aparat kemanan atau militer dalam upaya meredam konflik agar tidak meluas lebih jauh.
2.      Peacekeeping, merupakan upaya yang dilakukan melalui rekonsiliasi sikap politik dan strategi pihak yang bertikai dengan negosiasi, mediasi, dan arbitrasi atau perwalian sengketa.
3.      Peacebuilding, lebih menekankan pada proses jangka panjang yang mencoba mengembalikan keadaan destruktif pasca perang, yang termasuk melakukan rekostruksi social, ekonomi, dan poliitik di dalamnya.[7]
Dalam konflik Suriah, upaya peacekeeping tidak dilakukan dengan menggunakan instrument militer melalui NATO seperti yang terjadi di Irak, Libya dan Afghanistan. hal ini dikarenakan terdapat perbedaan besar dalam pola konflik Suriah dengan Libya atau Irak. Sedangkan Peacemaking dilakukan melalui negosiasi dengan mempertemukan kedua belah pihak, baik rezim Assad maupun oposisi, dalam pertemuan formal maupun informal yang menghasilkan suatu draft berupa perjanjian atau kesepakatan. Mediasi yang terlibat dalam konflik suriah dapat melalui pihak ketiga, diantaranya individu, seperi UN Special Envoy Koffi Annan, Lakhdar Brahimi dan Staffan de Mistura, Organisasi regional melalui Liga Arab, dan Organisasi Internasional seperi PBB. Sedangkan Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, nampaknya belum diputuskan mengingat proses resolusi damai masih berlangsung hingga saat ini. Konflik SUriah juga belum memasuki tahapan peacebuilding, mengingat belum adanya kesepakatan yang diperoleh dari tahapan peacemaking.

Akar Permasalahan Konflik
Konflik Suriah diawali dengan munculnya aksi protest yang terjadi di Tunisia dan Mesir yang mana revolusi tersebut berhasil menumbangkan penguasa dikatator mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi asal mula munculnya protest terhadap rezim berkuasa Suriah Bashar Al-Assad yang telah memerintah selama 11 tahun lamanya. Pada awalnya, pemerintah menaggapi protest dengan mencoba mengembalikan keadaan melalui penghapusan State of Emergency yang telah ada 50 tahun lamanya. [8]State of Emergency sendiri memberi kewenangan Presiden untuk menangkap sesorang tanpa adanya tuntutan atau tuduhan dan memberikan keleluasaan terhadap pemerintah untuk mengatur dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakatnya.[9]
Melihat aksi protest yang terus meluas, pemerintahan Assad tidak tinggal diam dalam menaggapi hal tersebut. Angkatan bersenjata segera dikerahkan untuk membunuh para aktivis yang menyuarakan gerakan anti pemerintah tersebut. Disinilah militer yang berpihak pada pemerintah mulai melakukan penculikan, pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan pada seluruh anggota aktivis tersebut. Tentu saja dalam aksi baku menembak tersebut, korban sipil yang berjatuhan menjadi tak terelakkan, bahkan bukan hal yang biasa lagi melihat potongan tubuh mayat yang berada di pinggiran jalan kota Suriah. Dengan demikian protest yang tadi ditujukan pada rezim, berbalik arah melawan rakyat sipil Suriah.
Seperti rezim-rezim dalam dunia Arab lainnya, rezim pemerintahan Suriah yang cenderung korup, represif, serta tidak memperhatikan kepentingan dan apresiasi rakyatnya, sudah muncul dalam sejarah pemerintahan Suriah khususnya sejak Hafiz Al-Assad, Ayah Bashar Al-Assad berkuasa dengan partai sosialis Ba’aths (hizb al-ba’ats al isytikari) pada tahun 1963.[10] Kondisi Arab Spring dinilai pas untuk menyalurkan ketidakpuasan rakyat yang selama puluhan tahun hidup dalam kungkungan rezim otoriter yang berkuasa. Ide dan tujuan dasar Arab Spring ini adalah Demokrasi, yang mana ide demokrasi ini muncul disebabkan karena semakin lemahnya kualitas hidup masyarakat khususnya kelas menengah kebawah. Ditambah dengan tidak adanya partisipasi rakyat, kebebasan memilih, bersuara dan bergerak lebih luas sebagaimana hak warga negara pada umumnya. Dalam proses revolusi ini masyarakat, LSM, NGO, dan media massa memiliki peran yang kuat dalam menyebar dan menyuarakan protes baik secara langsung maupun memalui media massa seperti Facebook, Twitter, YouTube dan Blog.

Kompleksitas Konflik
Konflik Suriah memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Dikatakan kompleks karena konflik ini tidak hanya melibatkan actor dalam Negara saja. Banyaknya Actor yang bermain dalam kasus konflik ini semakin menambah daftar masalah yang menyebabkan terjadinya konflik berkepanjangan tanpa titik temu yang jelas. Dipihak Pemerintah Bassar Al-Assad sendiri, Rusia, China yang sebagai anggota dewan kemanan PBB terlihat memberikan dukungan yang sangat kuat terhadap rezim pemerintah. Usaha Rusia dan China dapat dilihat dari bagaimana kedua Negara memberikan veto terhadap draft resolusi PBB yang mendeklasarasikan situasi Suriah sebagai ancaman terhadap kondisi perdamaian dan keamanan Internasional sehingga diperlukan adanya intervensi militer secara lebih lanjut didalamnya.[11] Selain itu Rusia dan China juga memberikan veto terkait rancangan pemberian sanksi terhadap Pemerintahan Assad, sanksi ini muncul akibat dugaan adanya kepemilikan senjata pemusnah massal yang dimiliki Assad. Sanksi yang diajukan diantaranyan berupa embargo ekonomi dan pembekuan asset.[12] Menurut pihak Rusia dan China, pemberian saknsi ini semakin membuka jalan untuk dilakukannya intervensi militer di Suriah, dimana military intervention ini lambat laun berubah menjadi humanitarian intervention yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Iraq dan Libya. Disamping itu, pemberlakuan intervensi militer ini, dianggap sebagai pelanggaran atas kedaulatan sebuah Negara. Intervensi yang dilakukan untuk mengamankan rakyat sipil dari kejahatan rezim, untuk apa dilakukan jika pada akhirnya korban yang berjatuhan adalah rakyat sipil sendiri.
  Konsep Responsibility to Protect atau R2P dapat dijadikan batu loncatan bagi pihak oposisi dalam melakukan intervensi tersebut, R2P senidiri merupakan perkembangan konsep dalam hukum internasional yang pertama kali dibuat oleh pemerintah Canada dan dikembangkan oleh International Commision on Intervention and state Sovereignity (ICISS) pada tahun 2001, dimana suatu Negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyat mereka terhadap kejahatan massal, dan kejahatan kemanusiaan. Bilamana pemerintah suatu Negara gagal menunaikan kewajiban mencegah terjadinya kejahatan missal dinegaranya, maka tanggung jawab kemenusaian tersebut diambil alih oleh komunitas  internasional. Sehingga pada masa tersebut masalah kedaulatan dapat ditangguhkan sementara waktu.[13]
Iran juga menjadi Negara yang berada di pihak rezim. Hal ini tidak mengagetkan, melihat kedua Negara sebagai penganut aliran Syiah di Timur-Tengah,  hubungan baik kedua Negara juga terjalin sejak lama, sama halnya dengan hubungan Suriah dengan China dan Russia. Lantas apa tujuan Negara-negara pendukung pemerintahan Assad ini? Tentu setiap Negara memilki kepentingannya sendiri, jika dilihat kebelakang, China dan Russia telah lama berada di belakang Suriah dengan tidak hanya memberikan hak istimewa mereka dalam siding PBB, namun juga memberikan suplai persenjataan maupun tentara militer terhadap Suriah, seperti halnya Rusia yang  juga mengaggap Suriah sebagai negara terbesar yang mengimpor senjata dari Rusia, namun sekiranya terdapat satu tujuan yang menjadi motivasi mereka, mencegah masuknya dominasi barat khususnya pengaruh AS dalam ranah Suriah.  Selain ketiga Negara tadi, masih ada kelompok pendukung Assad yang terdiri dari berbagai macam kelompok militer lokal, tentara bayaran, dan para sukarelawan perang yang berada di bawah naungan Free Syrian Army dan beberapa kelompok militant islam lainnya.
Di pihak oposisi sendiri terdapat Amerika Serikat, European Union, Arab Saudi, Turki, dan Qatar yang terus memberikan tekanan secara masiv terhadap pemerintah Assad. Hal ini direalisasikan dengan pemberian supply persenjataan kepada para pemberontak, menyewa tentara bayaran dan memberikan suara mereka dalam dewan keamanan PBB. Faktor lain yang menyebabkan konflik berkepanjangan adalah konflik sektarian yang telah lama menghantui Suriah dan telah menjadi masalah yang tidak pernah selesai dalam konstelasi geo-politik Timur-Tengah. Di Suriah, meskipun populasi masyarakatnya didominasi oleh Sunni, namun kursi pemerintahan didominasi oleh Syiah Alawite yang dianut oleh Assad. Disinilah muncul berbagai kelompok militant Islam seperti Jabhat an-Nushra, Al-Qaeda, dan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). Terlepas dari berbagai macam spekulasi dan propaganda di dalamnya, namun yang terpenting adalah kelompok-kelompok ini semakin menghambat prospek perdamaian Suriah.
Banyaknya actor yang bermain dalam konflik ini tentu menimbulkan kompleksitas tersendiri, suriah dihadapkan pada kenyataan konflik yang tidak hanya berpusat pada aktor internalnya saja, namun mencakup actor luar yang semakin menambah ketegangan konflik ini. Kompleksitas ini jugalah yang membedakan Konflik Suriah dengan yang terjadi di Libya atau Irak. Di Libya meskipun intervensi militer dilakukan, namun tidak ada dukungan massif yang disuarakan pihak atau blok penentang, meskipun ada, itupun hanya sekedar pemberian suara terhadap penghormatan kedaulatan Libya, sehingga penyelesaian konflik dapat cepat dilakukan meskipun menggunakan militer melalui NATO sebagai instrumennya.[14] hal ini tentu berbeda dengan Suriah, yang baik blok barat maupun blok timur, memiliki perbedaan pandangan dan keberpihakan mereka yang menghambat resolusi konflik yang selama ini tengah dijalankan.

Dampak Konflik Suriah
Dalam setiap konflik yang terjadi di sebuah negara, rakyat sipil merupakan pihak pertama yang paling merasakan dampaknya. Untuk dapat menghindari jumlah korban yang semakin meningkat, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya harus meninggalkan Suriah untuk mendapat kehidupan yang leih layak, keamanan. Sehingga tidak dapat dipungkiri masalah pelonjakan jumlah pengungsi tidak dapat terelakkan. Para pengungsi Suriah sendiri tersebar di sejumlah negara tetangga perbatasan seperti Yordania, Lebanon, Turki, Mesir dan Irak. Kelima negara ini menampung sekitar 97% jumlah pengungsi Suriah. Sebanyak 220.000 pencari suaka ke Eropa dan Dengan 3,5 total pengungsi yang telah terdaftar di UNHCR (United Nation Human Commision for Refugee) yang tersebar di kelima negara tadi, di Yordania kamp pengungsian Za’atari menampung lebih dari 80.000 orang yang menjadikan kampt tersebut sebagai kota ke-empat terbesar di Yordania.[15]
Peningkatan jumlah pengungsi inilah yang akhirnya juga memberikan apa yang disebut dengan spill over effect terhadap negera-negara host country tersebut. meskipun telah ada dana yang diberikan UNHCR dan berbagai organisasi internasional lainnya namun, tentu saja pihak host country juga harus menyediakan dana yang tidak sedikit. Masalah ini semakin dirasakan berat oleh host country yang mana kondisi geo-politik di dalam negaranya juga masih belum stabil. Contohnya Lebanon, Mesir, dan Irak yang belum belum pulih dari gejolak konflik di negara tersebut. Hal ini akhirnya menjadi  sebab masih adanya kamp pengungsian yang belum memasuki standard dan luput dari perhatian, sehingga menimbulkan masalah baru seperti prostitusi, human trafficking dan sebagainya.
Selanjutnya, konflik berkepanjangan ini juga semakin memperdalam jurang pemisah antara hubungan Iran-Saudi Arabia, yang juga semakin menambah ketegangan Sunni-Syiah di kawasan Timur-Tengah. Perpecahan ini tentu juga menyulitkan terciptanya prospek perdamaian Palestinna yang seolahterabaikan dan terlupakan oleh kemunculan konflik ini.
Resolusi Konflik Suriah: From ‘Geneva’ to ‘Aleppo Freeze’
Dalam setiap konflik yang terjadi, tentu ada upaya perdamain di dalamnya. Menanggapi konflik Suriah yang sedemikian membesar, Kofi Annan selaku utusan PBB dan Liga Arab untuk perdamaian Suriah, pada April 2012 mengajukan perdamaian 6 pasal perdamaian atau six-point plan sebagai langkah awal upaya perdamaian konflik ke-enam point ini diantaranya merupakan himbauan terhadap pemerintahan Suriah untuk melakukan proses politik pimpinan Suriah, untuk membahas aspirasi sah rakyat Suriah, selain itu isu genjatan senjata, dan penghentian dalam melakukan penyerangan terhadap rakyat sipil juga masuk dalam six-point plan ini.[16] Meskipun usulan ini diterima, namun pelanggaran yang terus dilakukan rezim Assad membuat six-point plan ini tidak berjalan dengan yang diharapkan. Hal ini menimbulkan kekecewaan besar bagi Kofi Annan yang menyebabkan pengunduran dirinya sebagai duta PBB dan Liga arab dalam perdamaian Suriah.
Pada Juni 2012, sejumlah menteri luar negeri beberapa Negara, diantaranya US, Qatar, Russia, China, UK, Turkey, dan reprsentasi EU, hadir dalam sebuah pertemuan yang digelar oleh PBB dan Liga Arab di Geneva. Pertemuan yang membahas kelanjutan dalam upaya perdamaian Suriah tersebut dikenal dengan Action Group, yang merepresentasikan sebuah langkah awal dalam mengimplementasikan six-point plan dan resolusi dewan kemanan PBB 20142, 2043 serta upaya resolusi dan transisi politik di Suriah. Action Group ini akhirnya dikenal dengan Geneva Communique.[17] Pada awal tahun 2014, kembali digelar sebuah pertemuan lanjutan yang diselenggarakan di Geneva dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan pihak pemerintah dan oposisi untuk mengimplementasikan secara penuh isi dari Geneva Communique I. Pertemuan yang dikenal sebagai Geneva Communique II ini, pada akhirnya juga belum membawa hasil yang signifikan dalam upaya perdamaian Suriah. Hal ini disebabkan oleh keteguhan dari masing-masing pihak, pemerintah dan oposisi dalam mempertahnkan kepentingan mereka. [18]
Padahal menurut Hugh Robertson selaku Mentri Luar Negeri Inggris mengatakan
"There is a binary choice here, "You either put pressure on them and try to have a peace agreement in Geneva. Or you do not bother and the fighting continues... if Geneva fails, we stop, we understand why, we regroup and we try again.[19]
Dalam pernyatannya ini Robertson meyakini bahwa prospek perundingan Geneva menjadi  cara yang terbaik dalam menemukan solusi konflik. Jika dalam perundingan ini saja tidak dapat mencapai kesepakatan, Ia ragu akan perundingan lanjutan yang semakin sulit dilakukan, mengingat semakin luasnya cakupan konflik, semakin sulit pula perundingan dilakukan.
Menurut Yezid Sayigh, memasuki tahun 2015 ini, terdapat tiga proposal perdamaian yang telah diajukan sebagai upaya resolusi konflik Suriah. UN Special Envoy untuk konflik Suriah, Staffan de Mistura kembali menekankan proposal perdamaiannya, “Aleppo Freeze” yang telah ditanggapi secara baik oleh PBB dan European Union. Begitu juga dengan Rusia yang akan menggelar formal talks yang akan dihadiri oleh pihak oposisi dan rezim Assad.[20] “Aleppo Freeze” sendiri adalah istilah “pembekuan”yang digunakan untuk membekukan kota Aleppo, yang menjadi wilayah utama pertempuran pihak oposisi dan pemerintah melalui genjatan senjata kedua belah pihak. De Mistura mengatakan bahwa Aleppo Freeze berbeda dengan genjatan senjata sebelumnya. Kali ini genjatan senjata akan difokuskan dengan mempersempit focus pendekatannya. Jika “pembekuan” berhasil di satu tempat, maka otomatis “pembekuan” juga akan berhasil di tempat selanjutnya.[21]
Jika dilihat hingga saat ini, terjadi perubahan pola penyelesaian konflik Suriah di tahun 2015 ini. Yaitu dengan mempersempit ruang dan focus penyelesaian konflik tersebut. Resolusi konflik melalui Geneva I dan II  yang fokus cakupannya luas, belum berhasil menciptakan hasil yang kesepakatan yang jelas, sehingga menurut Staffan De Mistura melalui Aleppo Freeze, diharapkan mampu mempercepat proses perdamain Suriah. Dalam statemenya, De Mistura menyatakan bahwa tujuan dari pada proposalnya adalah untuk menghentikan krisis kemanusaian yang terjadi, khususnnya mencegah jatuhnya korban akibat penggunaan senjata pemusnah massal yang digunakan rezim Assad, yang penggunanna telah dilarang dalam komunitas internasional.[22] Namun lagi-lagi, ini bukanlah perkara mudah untuk mendapatkan kesepakatan berbagai pihak oposisi yang ada. Pada pertemuan yang digelar di perbatasan Turki awal Maret lalu, terdapat beberapa pihak oposisi Suriah yang menyatakan penolakannya terhadap proposal de Mistura, mereka menyatakan penolakannya jika solusi perdamaian De Mistura tidak menyentuh aspek utama mereka untuk menurunkan Bashar Al-Assad dan kroninya dari kursi pemerintahan dan penuntutan akan pelanggaran perang.[23]
Dalam setiap kasus peperangan, resolusi konflik menjadi agenda utama dalam prospek perdamaian kedua belah pihak. Resolusi konflik jelas sangat dibutuhkan dalam konflik Suriah. Dalam Konflik yang berkepanjangan ini, fokus yang harus berikan tidak hanya terpusat pada Konsep Kemanan Negara, Intervensi, Kedaulatan dan sebagainya. Namun, dalam Konflik ini Masalah yang juga menjadi sangat penting adalah terkait Konsep Kemanan Manusia (Human Security). Human security selalu menjadi alasan terbesar mengapa resolusi konflik harus segera dilaksanakan. Nasib para pengungsi yang tersebar di Negara-negara tetangga tentu membawa masalah baru bagi para pengungsi maupun pemerintah Negara setempat. Kasus human trafficking dan prostitution network semakin bertambah dan mengancam keamanan para pengungsi khusunya perempuan. Ancaman ini seperti yang telah tercantum dalam Human Developed Report UNDP 1994:
“The failure to achieve the conditions that allow persons to live their lives free from fear and want can contribute to forced migration. The report identifies seven categories of threats to human security: economic, food, health, environmental, personal, community and political[24]
Prospek perdamain Suriah, telah diupayakan dengan berbagai macam rolusi konflik yang telah diajukan dan dilaksanakan. Namun kata “Sepakat” dalam mengakhiri perang, nampaknya akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam Geneva Communique I, kedua belah pihak sepakat untuk membentuk pemerintahan transisi Suriah, namun dalam Geneva Communique II, kembali terjadi perbedaan arah dan tujuan masing-masing pihak. Di pihak Assad, bersikeras untuk tidak memberikann kursi transisi kepada pihak atau kelompok manapun, mereka juga menjadikan isu ancaman terorisme sebagai isu utama diadakannya Geneva Communique II. Sementara di pihak oposisi bersikukuh untuk menetapkan pemerintahan transisi Suriah. Pada akhirnya semua pembicaraan damai ini berakhir dengan Zero Sum-Game.
Lantas jika dialog pembicaraan belum mampu mengatasi prospek perdamaian Suriah, bagaimana dengan usulan mengenai intervensi militer seperti halnya yang terjadi di Libya dan Iraq? Meskipun beberapa pihak oposisi menganggap bahwa intervensi militer merupakan cara yang paling ampuh seperti di Libya dan Iraq, namun selama Russia dan China masih memberikan hak veto mereka, nampaknya intervensi militer tidak akan pernah terjadi. Menurut hemat saya, meskipun jika intervensi militer ini dilakukan, hanya akan menyisakan permasalahan besar didalamnya seperti yang terjadi di Libya dan Iraq, yang pasca intervensi dilakukan, stabilitas kemanan, ekonomi dan upaya damai antar kelompok di dalam Negara tersebut belum juga didapatkan.
 Dalam prospek perdamaian Suriah, kata sepakat tidak hanya dibutuhkan dari pihak rezim dan oposisi saja. Michael Greig dalam Intractable Syria? menyatakan bahwa terhambatnya upaya mediasi juga disebabkan oleh berbagai macam kelompok pemberontak dan militan yang masing-masing dari mereka memiliki kepentingan dan tujuannya sendiri di Suriah.[25] Begitu juga dengan konflik sektarian yang berkembang, Sunni dan Syiah. Konflik sektarian sendiri menjadi isu yang telah lama berakar dalam konstelasi poilitik Timur-Tengah. Tentu saja, semakin banyaknya actor yang bermain, semakin sulit juga komunikasi yang terjalin antara masing-masing pihak, dan semakin sulit untuk mewujudkan perundingan untuk mencapai kata mufakat.
Dalam menaggapi kasus ISIS di Suriah, perluasan wilayah yang terus dilakukan ISIS, tentu membuat pihak baik oposisi maupun rezim Assad berada dalam posisi sulit. Di pihak Assad, tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban dalam perang melawan ISIS, belum lagi masalah peningkatan harga pangan, listrik, dan air yang menghantui rakyat Suriah yang masih berada didalamnya. Di pihak oposisi, kemunculan ISIS tentu membagi perhatian mereka dalam melawan pihak Assad, dan sekarang ISIS. [26] Dalam kasus ISIS, tentu akan lebih mudah jika kedua belah pihak bersatu dalam memerangi ISIS, karena perluasan wilayah yang dilakukan ISIS, secara tidak langsung menambah rentetan masalah dalam konflik Suriah.
Berbagai macam pertimbangan diataslah yang menunjukkan mengapa penyelesaian konflik, harus segera dilaksanakan di Suriah, tidak hanya karena biaya besar yang dikeluarkan kedua belah pihak, namun juga masalah kemanusiaan yang membutuhkan perhatian yang banyak, baik dari pemerintah setempat, organisasi internasional maupun masyarakat internasional. Dibutuhkan suatu kesatuan dalam kembali membangun Suriah seperti sedia kala, tidak hanya infrastruktur, tetapi juga membangun kembali psikologis  rakyat Suriah, yang tentu mengalami guncangan psikologis pasca perang. Jika hal ini terjadi, tentu dibutuhkan kesepakatan damai terlebih dahulu oleh kedua belah pihak. Memang, tidak ada yang tidak mungkin, namun nampaknya membutuhkan usaha dan waktu yang keras dalam membawa semua kelompok ini untuk duduk dalam satu ruang dan meja yang sama, dengan tujuan dan maksud yang sama, menuju perdamaian Suriah.
Conclusion
Is there a peace in Syria?
Berbagai macam usaha telah dilakukan dalam upaya prospek perdamaian Suriah, baik dengan pembicaraan formal maupun informal yang tidak hanya melibatkan pihak oposisi dan rezim Assad, namun juga pihak ketiga baik indivisu, badan regional (Liga Arab) dan Internasional (PBB). Namun, belum satupun dari upaya ini yang membuahkan hasil yang signifikan. Pihak Pemerintah dan oposisi masih terus melancarkan serangan satu sama lain, saling mencaplok wilayah kekuasaan yang tentu penggunaan senjata menjadi tak terelakkan. Kembali, rakyat sipillah yang harus menjadi korban dalam pertempuran ini. Namun, bukanlah suatu hal yang mustahil dalam menciptakan perdamain di Suriah. Tentu saja dibutuhkan kesepakatan kedua belah dalam menyelesaikan masalah ini, bagaimanapun intervensi militer bukanlah solusi yang tepat dalam mencapai prospek perdamain Suriah. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa tidak ada kata damai di Suriah, karena selalu akan ada akhir dalam setiap perang, dan akhir itu adalah damai. Seperti yang dikatakan Tim Phillips “Peace is possible in Syria. It's time to hear from those who have achieved it.

Endnote:




[1] Al Arabiya, 2015, Syriadeath toll now exceeds 210.000, right group says, dalam http://english.alarabiya.net/en/News/middle-east/2015/02/07/Syria-death-toll-now-exceeds-210-000-rights-group-says.html (6 Maret 2015)
[2] United Nation Population Fund, Regional Situation Report for Syria Crisis, diakses dalam https://data.unhcr.org/syrianrefugees/download.php?id=8064 (6 Maret 2015)
[3] Security Council Approves ‘No Fly Zones’ over Libya authorizing all necessary measures to protect civilianz tby vote of 9 in favour of 10 in favour with 5 substantion, Security Council. 2011. Dalam http://www.un.org/press/en/2011/sc10200.doc.htm (6 Maret 2015)
[4] Mostafiz Meah, 2013, Syrian Conflict: Dillemas and Challenge dalam http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2466111 (5 Maret 2015)
[5] Jacob Bercovitch, 2009, Introduction: the nature of conflict and conflict resolution, SAGE Publication, hal. 2-3. Diakses dalam http://www.sagepub.com/upm-data/24632_Bercovitch___Intro.pdf ( 29 Maret 2015)
[6] Ahmadi Sidiq, Surwandhono. 2011. Resolusi Konflik Dunia Islam. Graha Ilmu, Jogjakarta.
[7]Teori Resolusi Konflik dalam Mata Kuliah Studi Perdamaian Resolusi Konflik yang disampaikan oleh Ibu Peggy Puspa Hafsari S.Sos  (4 Maret 2015)
[8] Khaled Yacoub, Syria Assad ends State of Emergency, 2011, Reuters, diakses dalam http://www.reuters.com/article/2011/04/21/us-syria-idUSTRE72N2MC20110421 ( 26 February 2015)

[9] Syria to lift decades old- emergency law, 2011, Al-Jazeera. Diakses dalam http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2011/04/2011419135036463804.html (26 Maret 2015)

[10] Agastya ABM, 2013, Arab Spring, IRCiSoD, Jogjakarta.
[11] Richard N. Haas, Syria behind the UN Veto, pada http://www.cfr.org/syria/syria-beyond-un-veto/p28732  (27 February 2015)
[12] Stewarts and Stewart, US Government tightens Syrian sanction to use of chemical weapons: USG to intensify Syria sanction enforcement enforcement efforts, dalam http://www.stewartlaw.com/Article/ViewArticle/975   (27 February 2015)
[13] International Commission on Intervention and State Sovereignty (ICISS), 2001, The Responsible To Protect, International Development Center, Canada.
[14] Primus, Adeodatus. 2011. Intervensi Amerika Serikat dalam Konflik Politik Suriah 2011, hal.781. http://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/09/jurnal%204%20september%202014%20%28%20Baru%29%20%2809-11-14-08-13-13%29.pdf  pada (6 Maret 2015)
[15] Achilleas Galatsidas, Syrian Refugeess, 3,5 People Flee to Neighboring Countries, dalam http://www.theguardian.com/global-development/2015/mar/11/syrian-refugees-asylum-seekers-unhcr 
 (28 Maret 2015)
[16] As annexed to Security Council resolution 2042 (2012) of 14 April. Diakses dalam http://www.un.org/en/peacekeeping/documents/six_point_proposal.pdf (30 Maret 2015)
[17] Public Internationalal law and Policy Groups, Geneva II: Negotiating at a Peace Conference in Syria, 2013, dalam http://publicinternationallawandpolicygroup.org/wp-content/uploads/2013/11/PILPG-Geneva-II-Simulation-Lessons-Learned-Report-Nov-2013-.pdf (5 Maret 2015)
[18] Alper Yilmaz, Why did Geneva II Peace Talks Fail? , 2014, Todays Zaman.  Dalam http://www.todayszaman.com/blog/alper-yilmaz-dede/why-did-the-geneva-ii-peace-talks-fail_339964.html  (6 Maret 2015)
[19] Basma Atassi, Explaining the Geneva II peace talks on Syria, Aljazeera, 2014, dalam http://www.aljazeera.com/indepth/features/2014/01/explaining-geneva-ii-peace-talks-syria-2014118142853937726.html  (5 March 2015)
[20] Yezid Sayigh, Carniege Endowement for International Peace, Syria in 2015, political stalement again or compromise dalam http://carnegie-mec.org/2015/01/08/syria-in-2015-political-stalemate-again-or-compromise/hz21   (5 Maret 2015)
[22] Syrian Opposition Group Reject Aleppo Freeze Plan, Al-Akhbar English. 2015. Diakses dalam http://english.al-akhbar.com/node/24008 (11 Maret 2015)

[23] Syria Rebbels Reject Envoy Plan to Freeze Aleppo Fighting, Bussiness Standard, 2015. Diakses dalam http://www.business-standard.com/article/pti-stories/syria-rebels-reject-envoy-plan-to-freeze-aleppo-fighting-115030200017_1.html (11 Maret 2015)

[24] United Nation Development Program Report: New Dimension of Human Security Technical Report. New York: 1994, United nation Developed Program. Dalam http://hdr.undp.org/sites/default/files/human_security_guidance_note_r-nhdrs.pdf   (5 Maret 2015)
[25] Greig, Michael. 2013. Intractable Syria?. University of North Texas. Dalam http://elibrary.law.psu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1029&context=jlia  (6 Maret 2015)
[26] Jessica T Matthews, 2014, is there an answer in Syria, diakses dalam http://www.nybooks.com/articles/archives/2014/nov/06/there-answer-syria/?insrc=hpss (5 March 2015)


REFERENSI:

Ahmadi Sidiq, Surwandhono. 2011. Resolusi Konflik Dunia Islam. Graha Ilmu, Jogjakarta.
Agastya ABM, 2013, Arab Spring, IRCiSoD, Jogjakarta.
Achilleas Galatsidas, Syrian Refugeess, 3,5 People Flee to Neighboring Countries, dalam http://www.theguardian.com/global-development/2015/mar/11/syrian-refugees-asylum-seekers-unhcr 
Atassi, Bassam. Explaining the Geneva II peace talks on Syria, Aljazeera, 2014, dalam http://www.aljazeera.com/indepth/features/2014/01/explaining-geneva-ii-peace-talks-syria-2014118142853937726.html 
As annexed to Security Council resolution 2042 (2012) of 14 April. Diakses dalam http://www.un.org/en/peacekeeping/documents/six_point_proposal.pdf (30
Greig, Michael. 2013. Intractable Syria?. University of North Texas. Dalam http://elibrary.law.psu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1029&context=jlia 
International Commission on Intervention and State Sovereignty (ICISS), 2001, The Responsible To Protect, International Development Center, Canada.
Jessica T Matthews, 2014, is there an answer in Syria, diakses dalam http://www.nybooks.com/articles/archives/2014/nov/06/there-answer-syria/?insrc=hpss
Jacob, Bercovitch. 2009, Introduction: the nature of conflict and conflict resolution, SAGE Publication, hal. 2-3. Diakses dalam http://www.sagepub.com/upm-data/24632_Bercovitch___Intro.pdf
Mostafiz, Meah. 2013. Syrian Conflict: Dillemas and Challenge dalam http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2466111
Primus, Adeodatus. 2011. Intervensi Amerika Serikat dalam Konflik Politik Suriah 2011, hal.781. http://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/09/jurnal%204%20september%202014%20%28%20Baru%29%20%2809-11-14-08-13-13%29.pdf 
Public Internationalal law and Policy Groups, Geneva II: Negotiating at a Peace Conference in Syria, 2013, dalam http://publicinternationallawandpolicygroup.org/wp-content/uploads/2013/11/PILPG-Geneva-II-Simulation-Lessons-Learned-Report-Nov-2013-.pdf
Syria to lift decades old- emergency law, 2011, Al-Jazeera. Diakses dalam http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2011/04/2011419135036463804.html
Syria behind the UN Veto, Richard N. Haas pada http://www.cfr.org/syria/syria-beyond-un-veto/p28732
Stewarts and Stewart, US Government tightens Syrian sanction to use of chemical weapons: USG to intensify Syria sanction enforcement enforcement efforts, dalam http://www.stewartlaw.com/Article/ViewArticle/975  
Security Council Approves ‘No Fly Zones’ over Libya authorizing all necessary measures to protect civilianz tby vote of 9 in favour of 10 in favour with 5 substantion, Security Council. 2011. Dalam http://www.un.org/press/en/2011/sc10200.doc.htm
Syrian Opposition Group Reject Aleppo Freeze Plan, Al-Akhbar English. 2015. Diakses dalam http://english.al-akhbar.com/node/24008

Syria Rebbels Reject Envoy Plan to Freeze Aleppo Fighting, Bussiness Standard, 2015. Diakses dalam http://www.business-standard.com/article/pti-stories/syria-rebels-reject-envoy-plan-to-freeze-aleppo-fighting-115030200017_1.html

United Nation Development Program Report: New Dimension of Human Security Technical Report. New York: 1994, United nation Developed Program. Dalam http://hdr.undp.org/sites/default/files/human_security_guidance_note_r-nhdrs.pdf  
United Nation Population Fund, Regional Situation Report for Syria Crisis, diakses dalam https://data.unhcr.org/syrianrefugees/download.php?id=8064
Yacoub, Khaled. Syria Assad ends State of Emergency, 2011, Reuters, diakses dalam http://www.reuters.com/article/2011/04/21/us-syria-idUSTRE72N2MC20110421
Yezid Sayigh, Carniege Endowement for International Peace, Syria in 2015, political stalement again or compromise dalam http://carnegie-mec.org/2015/01/08/syria-in-2015-political-stalemate-again-or-compromise/hz21

Yilmaz, Alper. Why did Geneva II Peace Talks Fail? , 2014, Todays Zaman.  Dalam http://www.todayszaman.com/blog/alper-yilmaz-dede/why-did-the-geneva-ii-peace-talks-fail_339964.html



                                                                                                                                 


No comments:

Post a Comment