Cinta….sebuah
kata yang tak pernah habis diulas, sebuah kata yang memiliki ribuan makna,
sebuah kata yang mampu merubah hidup manusia didalamnya, sebuah kata yang
hangat dan menghinggapi hati setiap insan, tak pelak cinta seolah menjadi
sesuatu yang tak pernah habis dibicarakan setiap hari, setiap jam, setiap menit
di segala waktu.
Seiring
dengan berjalannya waktu dewasa ini fenomena cinta seolah bermetamorfosa di
kalangan remaja, masa remaja memang masa
yang dipenuhi oleh kata yang bernama cinta, setiap hari tanpa mengenal tempat
dan waktu, berbagai kasus masalah percintaan beredar di kalangan remaja, memang
itu adalah hal yang wajar karna itu adalah fitrah seorang manusia.
Berbicara
masalah metamorfosa yang saya sebutkan diatas tak lain adalah karena cinta
sekarang dianggap hampir menjadi satu-satunya tujuan hidup bagi banyak kalangan
pelajar dan mahasiswa, cinta yang awalnya mereka anggap sebagai “penyemangat”
dalam melakukan segala aktifitas alih-alih menjadi bumerang bagi diri mereka
sendiri, bagaimana tidak mereka banyak
mengorbankan waktu, biaya, hanya karena cinta tanpa mempunyai arti yang
nyata. Membuang banyak waktu untuk sebuah kata yang namanya “berpacaran” dimana
masih banyak hal penting yang harusnya terfikirkan, sudah terlalu banyak korban
dari kata Cinta yang tak mampu mengendalikan dan membawa dirinya kearah hakikat
cinta itu sendiri, alih-alih menjadi sebuah penyemangat namun pada akhirnya
mereka jatuh dalam lubang yang menghancurkan
hidup mereka sendiri.
Sebuah
refleksi yang perlu ditelisik lebih dalam akan hakikat cinta sendiri, mereka
yang rela mengorbankan apapun untuk pasangannya yang notabennya belum terikat
oleh suatu “Pernikahan”, tak hanya waktu dan materi, bahkan kerabat dan keluarga
sering menjadi sasaran mereka, bagaimana bisa hal itu terjadi disaat mereka
melakukan semua itu tanpa didasari adanya pemahaman yang berarti.
Suatu hal yang paling mengenaskan adalah
mereka melupakan sang Maha Cinta itu sendiri. Ya, Tuhan yang menciptakan mereka
dan menciptakan cinta itu sendiri, Allah S.W.T . Seolah tak ada yang namanya
batas pacaran, seoalah mereka tak butuh Tuhan mereka, seolah mereka telah
memilih jalan yang benar. Tentu saja ini mengenaskan generasi muda di Negara
bermayoritas islam yang akan membawa arah Negara ini kedepannya tidak memiliki
pondasi yang kuat dalam akhlaq dan keimanan mereka.
Sudah
seharusnya generasi muda ini bangkit memikirkan nasib bangsa, sekarang bahkan
setingkat mahasiswa pun masih banyak yang buta akan berbagai macam berita dan
kondisi tanah air, buta akan berbagai macam diskusi nasional dan internasional,
acuh tak acuh akan apa yang terjadi disekitarnya.
Sudah
cukup bangsa ini dijajah secara nyata, sekarang bahkan bangsa ini telah dijajah
Ideolodi dan Idealismenya, sudah menjadi tugas kita sebagai generasi muda untuk
mampu melawan kuatnya arus globalisasi yang selain menimbulkan keberuntungan
juga menimbulkan banyaknya kerugian terutama menjaga dalam menjaga ideologi
bangsa Indonesia.
No comments:
Post a Comment