Saturday, 1 March 2014

Pendidikan Akhlak : Mengajar Dengan Akhlak




Dalam dunia pendidikan, kualitas dan mutu para Siswa acap kali dilihat dari siapa dan bagaimana orang yang mengajar. Disinilah Guru memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan mutu dan kualitas para muridnya, tentu kualitas dan kuantitas yang diinginkan dari para Siswa bukan hanya dalam hal pelajaran, melainkan hal yang menjadi dasar kepribadian yang harus diterapkan sejak dini, Akhlak.
Pada hakikatnya tugas seorang Guru bukanlah hanya sekedar mengajar, melainkan juga mendidik. Karena pengajar dan pendidik memiliki substansi yang berbeda, seorang pengajar belum tentu seorang pendidik, tetapi seorang pendidik sudah tentu seorang pengajar. Seorang pendidik tidak hanya  mengajarkan pelajaran-pelajaran yang diberikan, seorang pendidik dituntut mampu dalam menerapkan Kepribadian dan Akhlak yang baik untuk ditanamkan kepada para Muridnya.
Seperti kita ketahui di Indonesia sendiri kesejahteraan Guru sangat dijamin, terutama bagi para guru yang telah lolos sertifikasi akan mendapatkan gaji yang sangat besar. Tentu saja ini merupakan hal yang positif dan disambut baik, namun alangkah baiknya jika hal ini sesuai dengan Output yang diberikan Guru terhadap muridnya. Dewasa ini angka kriminalitas anak dibawah 17 tahun semakin meningkat, di tahun 2012 tercatat 2008 kasus di kuartal pertama tahun 2012, jumlah itu meliputi semua kasus yakni pencurian, pelecehan seksual, tawuran, bahkan pembunuhan. Peran orang tua dirasa tidak  cukup untuk mendidik dan mengayomi seorang anak 24 jam, karena lebih dari 6-8 jam waktu mereka berada di Sekolah tentu, sekali lagi Guru memiliki peran yang besar dalam penerapan pendidikan karakter bagi Anak-anak.
Pendidikan Akhlak atau pembentukan karakter/mental sangat diutamakan. Sebab, Akhlak merupakan salah satu faktor penentu corak kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya di zaman yang penuh akan tantangan moral, terutama anak-anak dan remaja, penerapan Akhlak dan Moral harus mendapat perhatian utama, tentu ini bukan hanya peran orang tua saja, melainkan para guru yang berperan besar bagi pendidikan dan pengajaran Muridnya.
Ironis sekali, di Indonesia masih banyak  ditemukan guru yang hanya sekedar mengajar karena memenuhi kewajiban saja, dalam artian guru tersebut hanya mengajar karena gaji bulanannya saja, mengajar tanpa menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan hanya sekedar menjalankan kewajiban mengajar, namun juga bagaimana Ia mampu mendidik, dengan mentransfer Akhlak dan Moral yang baik kepada muridnya, tentu ini bukan pekerjaan mudah, namun dengan tekad dan kepercayaan yang kuat, tentu hal ini dapat diaplikasikan.
Konsep Keikhlasan, sebenarnya menjadi kunci pertama yang tidak boleh diabaikan bagi seorang guru, Ikhlas mengajar, Ikhlas mendidik, Ikhlas dalam mengayomi tanpa banyak mengharapkan imbalan. Ikhlas, sesuatu yang bahkan sering diabaikan, tertutup oleh gelimang materi yang  menjanjikan. Sosok-sosok guru seperti Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi, merupakan cerminan para guru yang harus diteladani, dengan menjunjung rasa Keikhlasan dan perjuangan akan pendidikan, mereka mampu menciptakan generasi muda berkualitas di tengah keterbatasan.  Sosok Ustadz Salman dalam negeri Lima Menara juga pantas di teladani, Motivasi dan Keikhlasannya dalam mengajar bahkan tanpa dibayar, mampu diimplementasikan Muridnya, dan membawa serta Muridnya ke dalam pintu kesuksesan. Itulah Guru yang dalam peranannya harus mampu memposisikan diri mereka sebagai orang tua kedua, dalam hal ini tanggung jawab akan amanat yang diberikan harus teraplikasikan, mendidik murid bukan hanya dengan teori tetapi juga aksi, niat dan tujuan yang baik. Sungguh, Karena  Segala Sesuatu yang dimulai dari niat dan tujuan yang baik, maka hasilnya pun akan baik.
Dalam meningkatkan pendidikan akhlak bagi para Siswa , kerjasama antar Guru, Kepala Sekolah, serta masing-masing Instansi pendidikan lainnya dirasa sangat perlu dalam penetapan metode dan penerapan pendidikan akhlak bagi para Siswa, disamping memberikan kesadaran bagi seluruh para guru agar tidak hanya memperhatikan hal akademik saja, namun penerapan akhlak dan kepribadian terhadap siswa harus diperhatikan pula.
di Al-Qur'an pun Ayat-ayat yang berbicara tentang akhlak juga banyak ditemukan, dalam Al-Qur'an Berperilaku dengan Akhlak sudah diatur, Akhlak terhadap orang tua (Al Israa’ : 23-24), tetangga (An Nisaa’ : 36-37), anak yatim (Adh Dhuhaa : 9-11), dan juga terhadap sesama manusia (Al Balad : 12-16) serta di beberapa ayat lainnya. inilah mengapa Akhlak menjadi hal yang krusial untuk terus dikaji dan diterapkan, khususnya penerapan Akhlak sedari dini.





No comments:

Post a Comment